Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa konten video mengenai kerontokan rambut di platform media sosial populer seperti YouTube, TikTok, dan Instagram kerap mempromosikan rekomendasi perawatan yang tidak dapat diandalkan. Temuan ini diterbitkan dalam International Journal of Dermatology, menyoroti rendahnya kualitas dan reliabilitas informasi yang disajikan kepada jutaan penonton.
Para peneliti menganalisis sebanyak 156 video terkait kerontokan rambut yang tayang di ketiga platform tersebut. Rata-rata, setiap video mendapatkan lebih dari 445.415 tayangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa informasi yang disajikan seringkali tidak akurat. Kualitas informasi dinilai berdasarkan skor JAMA, dengan rata-rata hanya 1,6 dari skala 4, sementara reliabilitasnya diukur dengan skor DISCERN yang rata-rata hanya mencapai 1,4 dari skala 5.
Dr. Jeff Donovan, MD, PhD, FRCPC, yang juga merupakan direktur Donovan Hair Clinic, menyatakan keprihatinannya atas fenomena ini. “Media sosial kini telah menjadi sumber informasi medis yang sangat penting bagi banyak orang,” ujar Dr. Donovan. Pernyataannya menggarisbawahi betapa besarnya pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi dan tindakan masyarakat terkait kesehatan, termasuk penanganan kerontokan rambut.
Studi ini menemukan bahwa banyak video menampilkan klaim perawatan yang tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Pengguna media sosial yang mengalami kerontokan rambut mungkin tanpa sadar mengikuti saran yang salah, yang berpotensi memperburuk kondisi mereka atau bahkan menimbulkan risiko kesehatan baru. Tingginya jumlah penayangan pada video-video tersebut menunjukkan bahwa isu kerontokan rambut sangat diminati, namun sayangnya, informasi yang beredar tidak selalu memenuhi standar keilmuan yang ketat.
Para ahli menyarankan agar masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi kesehatan dari media sosial. Penting untuk selalu memverifikasi klaim yang dibuat, terutama yang berkaitan dengan perawatan medis, dengan berkonsultasi kepada profesional kesehatan yang berkualifikasi. Media sosial memang menawarkan akses informasi yang luas, namun filterisasi dan validasi informasi menjadi kunci utama agar tidak tersesat dalam lautan konten yang belum tentu benar.
