Saturday, 22 August 2026
BREAKING
DUNIA

Tutupnya Toko Buku Independen di Hong Kong: Jendela ke Kebebasan yang Menyempit bagi Pembaca Tiongkok

Oleh Rini Widiyarti August 22, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Beberapa toko buku independen di Hong Kong yang selama ini menjadi ruang bagi warga Tiongkok daratan untuk mengakses pemikiran yang berbeda, kini menghadapi penutupan. Peristiwa ini menandai penyempitan akses terhadap literatur dan pandangan yang mungkin tidak tersedia di negara asal mereka, sekaligus mengikis salah satu jendela terakhir ke dunia yang lebih bebas.

Bagi sebagian pembaca dari Tiongkok daratan, toko-toko buku independen di Hong Kong bukan sekadar tempat membeli bacaan. Mereka adalah suaka intelektual, tempat di mana berbagai gagasan dan sudut pandang yang sering kali dibatasi di tanah air dapat dieksplorasi. Keberadaan toko-toko ini memberikan kesempatan untuk mempertanyakan narasi dominan dan memahami perspektif yang lebih luas tentang dunia dan negara mereka sendiri.

Namun, realitas ekonomi dan politik yang berubah di Hong Kong telah memberikan pukulan telak bagi sektor toko buku independen. Kenaikan biaya sewa, persaingan dengan platform digital, dan perubahan lanskap sosial-politik diperkirakan menjadi faktor utama di balik gelombang penutupan ini. Penutupan ini bukan hanya kehilangan ruang fisik, tetapi juga hilangnya kesempatan bagi banyak orang untuk menemukan literatur yang mungkin tidak lolos sensor di Tiongkok daratan.

Salah satu toko buku yang terdampak adalah **Flow Bookshop** di Causeway Bay, yang dijadwalkan tutup pada 31 Mei 2024 setelah beroperasi selama 16 tahun. Pemiliknya, **Lam Chi-hung**, mengutip kombinasi kenaikan sewa dan penurunan jumlah pelanggan sebagai alasan utama. Ia menyatakan, “Saya tidak punya pilihan selain menyerah.” Lam juga menambahkan bahwa toko-toko buku independen di Hong Kong memiliki peran penting dalam menyediakan ruang untuk diskusi dan pertukaran gagasan, sebuah fungsi yang semakin sulit dipertahankan.

Kisah serupa juga dialami oleh toko buku **Bleak House Books** yang berlokasi di Sai Ying Pun, yang juga mengumumkan penutupannya pada Mei 2024. Pendiri **Leo Lee** mengungkapkan bahwa tantangan operasional yang dihadapi toko buku independen semakin berat. Ia pernah menyatakan, “Sangat sulit untuk terus beroperasi di sini.” Lee menyoroti bahwa sebagian besar pembelinya adalah ekspatriat dan turis, yang jumlahnya menurun drastis akibat pandemi COVID-19 dan pembatasan perjalanan yang kemudian menyusul.

Penutupan toko-toko buku independen ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan keragaman intelektual di Hong Kong, terutama bagi pembaca dari Tiongkok daratan yang mencari alternatif dari informasi yang disajikan oleh media pemerintah. Hilangnya ruang-ruang ini dapat semakin mempersempit akses terhadap literatur kritis dan pemikiran independen, yang esensial untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu sosial dan politik kontemporer.

Bagikan: Facebook X WhatsApp