Friday, 21 August 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Lebih dari 700 VPN Palsu Banjiri Chrome Web Store, Ancam Keamanan Data Pengguna

Oleh Heni Maulidya August 21, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Ratusan aplikasi VPN palsu telah membanjiri Chrome Web Store, menyamar sebagai layanan terpercaya untuk mencuri data pengguna. Tim keamanan siber Socket menemukan lebih dari 700 ekstensi mencurigakan yang menawarkan layanan VPN dan proksi SOCKS5, namun banyak di antaranya tidak berfungsi seperti yang dijanjikan atau bahkan dirancang untuk membahayakan.

Temuan ini diungkapkan oleh Socket, sebuah platform keamanan siber yang memiliki ekstensi GitHub, firewall, dan CLI. Tim riset ancaman mereka menganalisis 737 ekstensi Chrome yang diduga palsu. Dari jumlah tersebut, 525 di antaranya dianalisis secara mendalam. Ekstensi-ekstensi ini berasal dari 40 akun pengembang berbeda dan telah diunduh sebanyak 75.486 kali oleh pengguna.

Dalam analisisnya, Socket menemukan berbagai modus operandi yang digunakan oleh pengembang aplikasi palsu ini. Sebanyak 274 dari 525 ekstensi memplagiat merek dan logo dari 66 platform VPN ternama, termasuk Proton VPN, Surfshark, NordVPN, ExpressVPN, CyberGhost, dan TunnelBear. Dua ekstensi bahkan secara spesifik meniru AmneziaVPN dan AntiZapret, yang sering digunakan untuk menghindari sensor internet.

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak dari ekstensi ini mengarahkan seluruh aktivitas online pengguna melalui server SOCKS5 yang tetap, tanpa fitur split tunneling atau kontrol per situs. Ini berarti semua data pengguna akan terekam. Socket juga menemukan 104 ekstensi menggunakan teknik penghindaran DNS-over-HTTPS untuk melewati daftar blokir Chrome dengan memalsukan catatan DNS mereka. Beberapa ekstensi bahkan mengiklankan server VPN premium di lokasi seperti Jepang, Singapura, Kanada, Australia, dan Turki, namun server-server tersebut ternyata tidak ada.

Modus penipuan lainnya termasuk tidak adanya verifikasi lisensi untuk langganan berbayar, yang tidak lazim untuk layanan berbayar. Salah satu ekstensi, Burñka VPN, ternyata hanya menampilkan antarmuka palsu tanpa merutekan lalu lintas pengguna sama sekali. Bukti lain dari niat jahat pengembang terlihat dari komentar dalam kode salah satu ekstensi: “Jika Chrome Web Store menolak ini karena membuka tautan secara otomatis, kita bisa menggantinya dengan notifikasi yang menawarkan untuk pergi ke bot Telegram.” Ini menunjukkan bahwa pengembang sadar melanggar kebijakan toko tetapi memilih untuk mengelak daripada memperbaiki.

Proses moderasi Chrome Web Store dinilai lalai dalam mendeteksi ekstensi berbahaya ini. Para pengembang diduga telah mempelajari proses peninjauan toko dan menggunakan metode coba-coba untuk menghindari deteksi. Bahkan setelah ekstensi mereka dihapus, mereka dapat membuat akun pengembang baru dengan biaya murah, sekitar $5, untuk menerbitkan ekstensi baru. Total biaya untuk menerbitkan lebih dari 700 ekstensi palsu ini diperkirakan hanya sekitar $200.

Tren ini sebagian besar menargetkan warga Rusia yang mencoba menghindari regulasi sensor regional. Namun, ancaman ini tidak terbatas pada wilayah tertentu. Kebijakan peninjauan keamanan yang longgar di Chrome Web Store dapat diadopsi untuk menargetkan pengguna di Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, atau di mana pun. Google sendiri telah mengeluarkan peringatan kritis pada tahun 2025 mengenai aktivitas VPN palsu serupa di Play Store untuk pengguna Android.

Untuk melindungi diri, pengguna disarankan untuk berhati-hati saat menginstal ekstensi VPN. Sebaiknya unduh ekstensi langsung dari situs web resmi penyedia VPN, bukan melalui bilah pencarian di toko aplikasi. Selalu baca ulasan pengguna, periksa rekam jejak akun pengembang, dan pastikan IP address serta DNS Anda terlindungi dengan melakukan tes kebocoran DNS.

Bagikan: Facebook X WhatsApp