Fenomena ‘doomspending’ semakin mengakar di kalangan Generasi Z, mendorong hampir separuh dari mereka, tepatnya 47%, untuk tidak memiliki dana darurat sama sekali. Perilaku belanja impulsif yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi menjadi biang keladi utama di balik tren mengkhawatirkan ini.
Dalam survei yang dilakukan oleh Pymnts.com, terungkap bahwa kecenderungan untuk menghabiskan uang secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal yang tidak esensial, semakin lazim dijumpai pada demografi muda ini. Kondisi ini diperparah oleh berbagai faktor eksternal yang menekan, membuat mereka merasa perlu untuk ‘menikmati saat ini’ tanpa memikirkan masa depan finansial.
Tekanan ekonomi yang dirasakan Gen Z tidaklah main-main. Inflasi yang terus merangkak naik, ketidakpastian lapangan kerja, serta tingginya biaya hidup membuat mereka merasa sulit untuk menabung. Alih-alih menyisihkan pendapatan, banyak dari mereka justru terjerumus dalam siklus belanja yang konsumtif sebagai bentuk pelarian atau kompensasi atas ketidakpastian yang dihadapi.
Perilaku impulsif turut memainkan peran penting. Kemudahan akses terhadap berbagai platform belanja online, promosi menarik, serta pengaruh media sosial yang gencar menampilkan gaya hidup konsumtif, semakin memicu Gen Z untuk melakukan pembelian tanpa perencanaan matang. Keputusan belanja seringkali didasarkan pada emosi sesaat daripada kebutuhan riil.
Akibatnya, sebagian besar Generasi Z kini berada dalam posisi finansial yang rentan. Tanpa adanya dana darurat, mereka akan sangat kesulitan menghadapi kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau perbaikan barang yang vital. Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pembuat kebijakan maupun institusi keuangan untuk merancang solusi yang tepat guna meningkatkan literasi finansial dan mendorong kebiasaan menabung di kalangan generasi penerus bangsa.
