DALLAS – Duel pembuka Grup J Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Austria di Dallas Stadium, Senin (22/6/2026), harus dimulai dengan drama menegangkan. Bintang utama Argentina, Lionel Messi, berpeluang mencetak sejarah sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia, namun tendangan penaltinya di menit kesembilan justru meleset dari sasaran. Momen krusial ini memengaruhi jalannya pertandingan yang kemudian berakhir tanpa gol di menit-menit awal.
Pertandingan yang diprediksi menjadi penentu juara grup ini berlangsung dengan intensitas tinggi sejak peluit kick-off dibunyikan. Argentina, yang berstatus juara bertahan, tampil dengan formasi 4-4-2 di bawah arahan Lionel Scaloni, mengandalkan duet Lionel Messi dan Lautaro Martinez di lini depan. Sementara itu, Austria yang dilatih Ralf Rangnick, dikenal dengan gaya pressing ketatnya, menurunkan susunan pemain terbaik mereka, termasuk trio lini tengah yang solid dan striker veteran Marko Arnautovic.
Momen krusial terjadi di menit kesembilan ketika wasit menunjuk titik putih setelah menilai terjadi pelanggaran di dalam kotak penalti Austria terhadap Lautaro Martinez. Keputusan ini sempat ditinjau melalui Video Assistant Referee (VAR) sebelum akhirnya dikonfirmasi. Lionel Messi maju sebagai algojo, membawa harapan besar bagi publik Argentina untuk melihat sang megabintang melampaui rekor 16 gol Miroslav Klose. Namun, dengan gaya khasnya yang mengambil ancang-ancang perlahan, tendangan kaki kiri Messi justru melebar dari tiang gawang. Kegagalan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Messi dan timnya, sekaligus memberikan kelegaan bagi skuad Austria.
Insiden penalti yang berujung kegagalan ini tampaknya sedikit memengaruhi ritme permainan Argentina. Di menit-menit berikutnya, Austria justru mampu mengambil inisiatif serangan dan membangun momentum. Tim asuhan Rangnick menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam skema pressing yang mereka terapkan, membuat para pemain Argentina kesulitan keluar dari tekanan. Bek tengah Austria, Danso, tampil menonjol dengan keberaniannya dalam duel fisik, sementara gelandang Marcel Sabitzer, yang merayakan penampilan ke-100 bersama timnas Austria, berusaha membuka ruang melalui umpan-umpan silang dari sisi kiri.
Argentina terlihat sedikit kesulitan dalam fase build-up serangan. Lionel Messi, meskipun menjadi pusat perhatian, dinilai memberikan kontribusi defensif yang minimal, sebuah karakteristik yang kerap muncul di akhir kariernya. Hal ini berbanding terbalik dengan Austria yang menunjukkan semangat juang tinggi dari setiap pemainnya. Peluang Argentina untuk memecah kebuntuan datang dari tendangan bebas di tepi kotak penalti pada menit ke-14 setelah Wanner dilanggar oleh Molina. Namun, eksekusi tendangan bebas tersebut tidak membuahkan hasil.
Menariknya, sebelum pertandingan dimulai, fokus utama tertuju pada potensi rekor yang bisa dipecahkan Messi. Perlu diketahui, Messi datang ke turnamen ini dalam suasana yang sedikit rumit setelah keluarganya mengkonfirmasi ayahnya, Jorge, sedang menjalani perawatan medis. Sebuah insiden pemberitaan yang keliru di media Argentina sempat membuat situasi semakin panas. Namun, Messi menunjukkan ketangguhan mentalnya dengan tetap tampil maksimal di laga pembuka melawan Aljazair, di mana ia mencetak hat-trick brilian. Keinginan untuk mencetak satu gol lagi demi memecahkan rekor Klose tampaknya menjadi motivasi tambahan baginya.
Sementara itu, di kubu Austria, sorotan juga tertuju pada striker veteran Marko Arnautovic. Pemain berusia 37 tahun ini akhirnya berhasil mencetak gol di Piala Dunia 2026 dalam pertandingan sebelumnya melawan Yordania. Meski sempat memiliki gol yang dianulir dan berkontribusi pada gol bunuh diri lawan, Arnautovic membuktikan ketajamannya dengan mengonversi penalti di akhir laga untuk memastikan kemenangan 3-1 bagi Austria. Kehadiran Arnautovic menjadi ancaman tersendiri bagi lini pertahanan Argentina.
Analisis pra-pertandingan juga menyoroti kekuatan Austria di bawah asuhan Ralf Rangnick. Tim ini dikenal sebagai unit yang solid, dengan filosofi permainan pressing tinggi yang menjadi ciri khas Rangnick. Setelah absen di Piala Dunia sejak 1998, Austria bertekad memberikan penampilan terbaik mereka di edisi kali ini. Pemain seperti Romano Schmid, yang mencetak gol spektakuler di laga perdana, juga menjadi elemen penting yang patut diwaspadai oleh Argentina.
Di sisi lain, Argentina juga menghadapi pertanyaan mengenai sumber gol mereka jika Messi mengalami hari yang kurang baik. Lautaro Martinez seringkali dikritik karena inkonsistensinya dalam penyelesaian akhir. Formasi 4-4-2 yang diterapkan Scaloni terkadang menyulitkan para gelandang untuk turut menyumbang gol. Thiago Almada, yang bermain di sisi kiri, diharapkan bisa memberikan ancaman lebih, meskipun catatan golnya di klub musim lalu tidak terlalu impresif.
Pertandingan ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian bagi Argentina dan Messi, tetapi juga menjadi momen penting bagi Austria untuk mengamankan posisi mereka di grup yang cukup kompetitif. Kekalahan di laga ini akan membuat mereka harus berjuang lebih keras di pertandingan terakhir melawan Aljazair demi melangkah ke babak gugur. Sementara itu, duel antara Aljazair dan tim lainnya di Grup J akan menambah dinamika persaingan memperebutkan tiket ke fase knock-out. Atmosfer di Dallas Stadium sendiri didominasi oleh suara nyanyian dan dukungan dari para penggemar Argentina, menciptakan suasana yang membakar semangat juang Lionel Messi dan kawan-kawan.











