Mimpi buruk Mohamed Salah dan Tim Nasional Mesir di ajang Piala Dunia akhirnya terpecahkan. Bintang Liverpool itu menjadi aktor utama saat Mesir meraih kemenangan bersejarah pertama mereka di Piala Dunia, mengakhiri penantian panjang selama 92 tahun. Kemenangan ini juga membuka peluang besar bagi "Firaun" untuk melangkah ke babak 32 besar untuk pertama kalinya.
Kemenangan dramatis ini tercipta berkat gol penentu Salah di menit ke-67, yang membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal lebih dulu oleh gol cepat New Zealand. Keunggulan Mesir kemudian digandakan melalui sundulan Trezeguet yang memanfaatkan sepak pojok Salah, mengunci kemenangan yang dinanti-nantikan. Momen ini menjadi pelipur lara bagi Salah yang sempat mengalami periode sulit di turnamen, setelah performa kurang meyakinkan di laga pembuka melawan Belgia dan babak pertama yang monoton melawan Selandia Baru.
Salah, yang kerap dijuluki "The Egyptian King", akhirnya menorehkan namanya di panggung terbesar sepak bola dunia. Ini menjadi penebusan atas kegagalan di Piala Dunia 2018 dan absennya Mesir di edisi Qatar 2022. Kepastian lolos ke babak selanjutnya akan ditentukan pada laga melawan Iran, di mana satu poin saja sudah cukup untuk mengamankan tiket. Namun, bukan tidak mungkin Mesir bisa melaju bahkan tanpa tambahan poin, tergantung hasil pertandingan lain. "Ini adalah pencapaian besar bagi seluruh pemain. Kemenangan yang luar biasa. Suasananya sangat bagus. Pertandingan berikutnya sangat penting," ujar Salah usai pertandingan.
Perjalanan Salah di Piala Dunia kali ini juga diwarnai ketidakpastian masa depan kariernya di level klub. Setelah musim yang kurang memuaskan bersama Liverpool dan dikabarkan berselisih dengan pelatih Arne Slot sebelum memutuskan hengkang, fokusnya kini tertuju penuh pada tugas negara. Ia bertekad memperbaiki catatan buruk Mesir di masa lalu, terutama pengalaman pahit di Piala Dunia 2018. Saat itu, Salah yang baru pulih dari cedera harus berjuang keras dan hanya mampu bermain sebagai pemain pengganti di laga pembuka melawan Uruguay.
Di Piala Dunia Rusia 2018, gol penalti Salah hanya menjadi hiburan saat Mesir takluk 1-3 dari tuan rumah Rusia, dan ia juga melewatkan peluang emas yang berujung pada kekalahan memalukan dari Arab Saudi. Kegagalan di turnamen tersebut berimbas besar, bahkan Salah sempat menuding federasi sepak bola Mesir mengganggu persiapan tim dan dikabarkan nyaris pensiun dari timnas. Situasi tak membaik empat tahun kemudian ketika Mesir gagal lolos ke Piala Dunia Qatar. Dan setelah 45 menit pertandingan melawan New Zealand, nasib buruk di Piala Dunia seolah kembali membayangi Salah.
Bahkan sebelum laga krusial ini, pelatih Mesir, Hossam Hassan, terpaksa angkat bicara untuk membantah isu keretakan hubungan dengan Salah, menyusul keputusannya menarik keluar sang bintang saat melawan Belgia. Namun, di saat laga melawan Iran berpotensi menjadi "kesempatan terakhir", Salah membuktikan kapasitasnya dan memicu euforia di kalangan penggemar Mesir di seluruh dunia.
Di Mesir, Salah bukan sekadar bintang sepak bola, melainkan ikon nasional. Setiap sentuhannya di lapangan disambut sorak sorai meriah, namun juga dibarengi tekanan besar. Golnya ke gawang New Zealand menjadi gol ke-68 Salah dalam 118 penampilan untuk timnas, hanya terpaut satu gol dari rekor legendaris pelatih Hossam Hassan. Gol ini dianggap sebagai yang paling krusial, mengakhiri penantian 92 tahun Mesir untuk kemenangan di Piala Dunia.
Legenda sepak bola yang juga mantan pelatih Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, menggarisbawahi peran vital Salah. "Jika ada keraguan tentang dampak Mo pada tim ini, Anda masih bisa melihatnya. Ini akan memberi mereka keyakinan besar. Mereka harus menghadapi kesulitan dan pemain besar mereka bangkit, itu akan memberi mereka kepercayaan diri besar. Anda membutuhkan pemain besar Anda untuk tampil demi kemajuan," ungkap Postecoglou kepada ITV. Mantan pemain sayap Jamaika, Jobi McAnuff, menambahkan, "Tepat saat dibutuhkan, Mo Salah bangkit untuk negaranya."
Pentingnya Salah bagi Mesir tidak dapat dilebih-lebihkan. Selama 14 tahun membela timnas senior, ia bahkan pernah mendapat perhatian dari pejabat tinggi pemerintah saat mengalami cedera. Dr. Mohamed Aboud, dokter timnas, mengenang saat Salah mengalami cedera bahu serius di final Liga Champions 2018, yang sempat menimbulkan spekulasi ia akan absen di Piala Dunia Rusia.
Meskipun telah mengukir berbagai prestasi gemilang di level klub, termasuk membawa Liverpool meraih gelar Liga Primer Inggris di musim 2019-2020 dan 2024-2025, Salah belum pernah mengangkat trofi bersama tim nasionalnya. Generasi sebelum Salah sempat meraih tiga gelar Piala Afrika berturut-turut antara 2006 hingga 2010. Namun, sejak itu, Mesir dua kali menelan kekalahan di final, masing-masing melawan Kamerun pada 2017 dan Senegal pada 2021. Kemenangan bersejarah di Piala Dunia 2026 ini setidaknya berhasil menghapus salah satu "hantu" kegagalan Mesir di kancah internasional.










