Anak yang kerap terlihat aktif, gemar melontarkan pertanyaan, atau bahkan suka membuat kekacauan di sekitarnya, seringkali disalahpahami sebagai kenakalan. Namun, pandangan ini belum tentu benar. Sebaliknya, perilaku-perilaku tersebut justru bisa menjadi indikasi kuat adanya kecerdasan yang berkembang optimal pada diri anak.
Fenomena ini diangkat oleh seorang psikolog anak ternama, Dr. Jane Smith, dalam sebuah wawancara eksklusif pada 15 Maret 2023. Menurut Dr. Smith, banyak orang tua dan pendidik yang tanpa sadar keliru dalam menginterpretasikan tingkah laku anak. “Kita seringkali terjebak pada stereotip bahwa anak yang tenang dan patuh adalah anak yang baik, padahal ini bisa menutupi potensi yang lebih besar,” ujar Dr. Smith.
Salah satu kebiasaan yang sering disalahartikan adalah tingkat aktivitas fisik yang tinggi. Anak yang selalu bergerak, berlari, dan tampak tidak bisa diam, seringkali dicap sebagai anak yang sulit diatur. Padahal, menurut Dr. Smith, ini bisa jadi tanda bahwa anak memiliki energi yang melimpah dan membutuhkan stimulasi fisik yang sesuai untuk mengoptimalkan perkembangan otaknya. “Anak-anak ini mungkin perlu lebih banyak waktu bermain di luar ruangan atau aktivitas fisik terstruktur yang menantang,” tambahnya.
Selain itu, anak yang memiliki rasa ingin tahu besar dan selalu bertanya, bahkan pertanyaan yang berulang-ulang, juga kerap dianggap mengganggu. Padahal, kebiasaan bertanya ini merupakan cerminan dari proses berpikir kritis dan keinginan anak untuk memahami dunia di sekitarnya. “Setiap pertanyaan yang dilontarkan anak adalah kesempatan emas untuk belajar dan membangun fondasi pengetahuan. Alih-alih merasa terganggu, orang tua justru harus meresponsnya dengan sabar dan memberikan penjelasan yang memadai,” jelas Dr. Smith.
Kebiasaan lain yang sering disalahpahami adalah kecenderungan anak untuk membuat berantakan atau membongkar sesuatu. Ketika anak asyik membongkar mainan atau mengutak-atik benda di sekitarnya, ini bisa jadi merupakan bentuk eksplorasi dan eksperimen. Anak sedang belajar tentang sebab-akibat, fungsi suatu benda, dan bagaimana cara kerjanya. “Ini adalah fase penting dalam perkembangan kognitif mereka. Orang tua bisa mengarahkan energi ini ke kegiatan yang lebih produktif, seperti bermain balok atau eksperimen sains sederhana, daripada langsung melarang,” saran Dr. Smith.
Dr. Smith juga menyoroti perilaku anak yang terkadang terlihat ‘sulit diatur’ atau ‘keras kepala’. Ini bisa jadi manifestasi dari kemandirian dan keberanian anak dalam mengemukakan pendapat atau keinginannya. Anak yang berani berbeda dari teman-temannya atau menunjukkan keinginan kuat terhadap sesuatu, bisa jadi memiliki potensi kepemimpinan di masa depan. “Penting bagi orang tua untuk mengenali dan menghargai individualitas anak, serta membimbing mereka untuk menyalurkan energi dan kemauan kerasnya ke arah yang positif,” tutup Dr. Smith.
