Bek tengah Manchester United, Harry Maguire, menunjukkan ketangguhan mental yang luar biasa pasca-namanya tidak masuk dalam daftar pemain pilihan Thomas Tuchel untuk skuad Timnas Inggris terbaru. Alih-alih terpuruk, pemain berusia 31 tahun itu justru memilih terbang ke New York City pada pertengahan pekan lalu. Keputusan ini menjadi semacam terapi instan yang cerdas untuk mengalihkan fokus dari kekecewaan yang mungkin dirasakan.
Di tengah hiruk pikuk Amerika Serikat, Maguire terlihat menikmati momen saat terlibat dalam sebuah acara promosi. Mantan kapten Manchester United ini tertangkap kamera membagikan stiker dan buku koleksi resmi dari Panini, produsen album legendaris asal Italia, kepada kerumunan penggemar yang memadati Times Square. Senyum lebar terpancar dari wajahnya, menunjukkan sikap ramah yang langsung mencuri perhatian publik setempat.
Meski gagal membela panji Tiga Singa dalam kesempatan kali ini, Maguire tetap menunjukkan profesionalismenya. Ia melayani sesi tanya jawab singkat, berbagi canda, dan tak lupa meladeni permintaan foto bersama para suporter yang telah mengular sejak pagi hari. "Selalu menyenangkan melihat para penggemar di seluruh dunia. Antusiasme di sini sangat luar biasa," ujar Maguire, yang juga memamerkan momen kebersamaannya dengan para penggemar di New York melalui akun media sosial pribadinya.
Di balik senyumnya yang lebar di Negeri Paman Sam, Maguire tak bisa sepenuhnya mengabaikan aspek taktis yang membuatnya tersingkir. Meskipun performanya dalam beberapa laga terakhir bersama Manchester United terbilang solid, hal itu rupanya belum cukup untuk meyakinkan Thomas Tuchel yang menghendaki adanya dinamika baru di lini pertahanan timnas.
Dalam sebuah kesempatan, Maguire akhirnya blak-blakan mengenai proses pencoretan dirinya. Berbicara dalam siniar The Rest is Football bersama legenda Inggris, Gary Lineker, ia mengungkapkan bahwa metode komunikasi Tuchel sangat tidak biasa dan terkesan canggung. "Dia menelepon semua orang melalui FaceTime," ungkap Maguire menceritakan momen pahit saat pengumuman skuad tersebut. Ia menambahkan, "Itu adalah percakapan yang cukup tidak menyenangkan bagi pemain mana pun."
Tuchel memang memilih pendekatan yang tidak lazim. Sebelum panggilan video dilakukan, sang pelatih mengirimkan pesan singkat untuk menentukan waktu percakapan. Bagi Maguire, cara ini menghadirkan tantangan tersendiri, karena emosi pemain sulit disembunyikan di depan kamera. "Itu cara yang cukup unik untuk melakukan hal seperti itu. Soalnya, pasti sulit untuk melihat reaksi setiap pemain secara langsung lewat layar handphone secara instan," jelas Maguire, yang telah mengoleksi 64 penampilan bersama Timnas Inggris.
Keputusan Tuchel untuk merombak lini pertahanan timnas bisa dibilang berani sekaligus tegas. Maguire sebenarnya telah berjuang keras untuk kembali menembus skuad tim nasional, menunjukkan etos kerja yang tinggi di Carrington dan konsistensi permainan di level klub. Harapannya untuk kembali mengawal lini belakang negaranya sempat membumbung tinggi.
Namun, juru taktik asal Jerman tersebut lebih memilih untuk meremajakan sektor pertahanan. Tuchel memprioritaskan pemain yang memiliki kecepatan, transisi cepat, dan mahir dalam memainkan skema penguasaan bola dari lini belakang. Beberapa nama bek muda yang dipanggil masuk ke dalam skuad timnas antara lain Marc Guehi (24 tahun, Crystal Palace), Levi Colwill (21 tahun, Chelsea), Ezri Konsa (27 tahun, Aston Villa), dan Taylor Harwood-Bellis (22 tahun, Southampton).
Selain deretan nama tersebut, Tuchel juga menyertakan John Stones dari Manchester City. Panggilan Stones sempat menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat sepak bola Inggris, mengingat sang pemain memiliki riwayat cedera yang cukup rentan dalam beberapa musim terakhir. Bagi publik Inggris, keputusan ini secara implisit menandai akhir dari sebuah era. Maguire, yang telah menjadi pilar penting sejak Piala Dunia 2018, tersingkir dari skuad utama, menunjukkan bahwa Tuchel tidak ragu untuk memangkas nama besar demi kesesuaian taktik.
Pergeseran taktik yang dilakukan Tuchel ini memang memiliki dasar yang kuat. Analisis mendalam menunjukkan bahwa gaya bertahan blok rendah yang selama ini menjadi kekuatan utama Maguire dinilai kurang cocok dengan skema garis pertahanan tinggi yang menjadi ciri khas permainan Tuchel. Sang pelatih membutuhkan bek tengah yang memiliki kecepatan pemulihan posisi (recovery pace) mumpuni, terutama saat tim menghadapi serangan balik cepat. Dalam aspek ini, Maguire kerap terlihat kewalahan ketika ruang di belakangnya terlalu terbuka lebar.
Kini, dengan kompetisi liga yang akan segera bergulir kembali, fokus Maguire harus segera dialihkan sepenuhnya untuk mengamankan posisinya sebagai pemain utama di Manchester United di bawah arahan pelatih baru, Ruben Amorim. Pembuktian performa di atas lapangan hijau bersama Setan Merah menjadi satu-satunya jalan tersisa baginya untuk kembali membuka pintu menuju tim nasional.











