Kesepakatan Damai AS-Iran Picu Kemarahan Publik Israel: Merasa Dikhianati Donald Trump

Heni Maulidya

Jakarta, CNN Indonesia — Publik Israel menunjukkan gelombang kemarahan dan kekecewaan mendalam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) damai antara AS dan Iran. Sejumlah warga Israel merasa dikhianati oleh sekutu terdekat mereka, yang sebelumnya diharapkan terus memberikan tekanan militer terhadap Teheran.

MoU yang disepakati pada Rabu (17/6) ini melibatkan penandatanganan jarak jauh antara Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kesepakatan tersebut mencakup 14 poin yang dinilai oleh banyak pihak lebih menguntungkan Iran, menimbulkan kekhawatiran signifikan di kalangan masyarakat dan pemerintah Israel.

Avi Perez, seorang warga Israel yang tinggal di Rehovot, mengungkapkan perasaannya yang hancur. "Kami sudah dikhianati oleh Presiden Trump," ujarnya kepada The Guardian, mencerminkan sentimen luas yang dirasakan oleh banyak warga Israel. Mereka berharap AS, sebagai mitra strategis, akan terus menunjukkan sikap tegas terhadap Iran, bukan justru merangkul Teheran melalui sebuah kesepakatan.

Latar belakang penandatanganan kesepakatan ini muncul di tengah ketegangan regional yang meningkat. Israel, yang selama ini memandang Iran sebagai ancaman eksistensial utama, telah mengantisipasi dukungan penuh dari AS dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai agresi Iran dan proksi-proksinya, seperti Hizbullah di Lebanon.

"Aneh sekali. Suatu hari kami berada di tempat perlindungan [bom], keesokan harinya, semua seharusnya normal. Tetapi tidak ada yang terselesaikan," kata Shaham Nowick, warga berusia 35 tahun asal Rehovot. Pernyataannya menggambarkan kebingungan dan ketidakpercayaan publik Israel terhadap perubahan arah kebijakan AS yang tiba-tiba.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan secara diam-diam berupaya untuk mengubah beberapa poin dalam kesepakatan AS-Iran yang masih dalam tahap perundingan. Perwakilan dari kedua negara dijadwalkan untuk bertemu di Swiss akhir pekan ini guna membahas detail lebih lanjut, memberikan celah bagi Israel untuk melobi dan memengaruhi hasil akhir.

Kemarahan publik Israel semakin memuncak setelah Donald Trump mendesak Israel untuk melakukan gencatan senjata dengan Hizbullah. Desakan ini datang sebagai respons atas ancaman Iran yang akan membatalkan kesepakatan damai jika Israel terus melanjutkan serangan ke wilayah Lebanon. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak warga Israel mengenai prioritas AS dalam menjaga stabilitas regional.

Udi Tenne, seorang penasihat strategis politik dan manajer kampanye internasional di Israel, menjelaskan perspektif warga Israel. "Warga Israel percaya bahwa perang di Lebanon adalah perang yang adil. Semua orang yang tinggal di Israel memahami bahwa Iran dan Hizbullah adalah satu dan sama," tegasnya. Bagi mereka, memisahkan ancaman Iran dari tindakan Hizbullah merupakan pandangan yang tidak realistis dan membahayakan keamanan mereka.

Menanggapi lobi-lobi Israel yang intens untuk mempertahankan sikap keras terhadap Iran, Donald Trump menyarankan agar pihak Israel menggunakan "kepala" dan "akal sehat" mereka dalam menyikapi kesepakatan tersebut. "Terkadang kamu hanya perlu tenang dan menggunakan akal sehatmu," ujar Trump kepada NBC, mengisyaratkan bahwa ia merasa Israel terlalu emosional dalam menghadapi situasi ini.

Keputusan Trump untuk mengejar kesepakatan dengan Iran tampaknya juga dipengaruhi oleh pertimbangan strategis terkait pasokan energi global. Trump menyatakan keprihatinan mendalam terhadap potensi kelangkaan minyak jika jalur pelayaran global di Selat Hormuz tidak segera dibuka. "Cadangan (minyak) kami akan habis dalam waktu empat pekan. Anda tahu, ada cadangan di seluruh dunia, dan kita akan benar-benar kehabisan, dan akan ada saatnya kita tidak bisa mendapatkannya lagi," ungkap Trump terkait pentingnya nota kesepahaman dengan Iran.

Situasi ini menandai pergeseran signifikan dalam hubungan AS-Israel di bawah kepemimpinan Trump, yang sebelumnya dikenal sangat mendukung kebijakan Israel. Kesepakatan damai dengan Iran, yang dianggap banyak pihak sebagai kemenangan diplomasi bagi Teheran, telah menciptakan keretakan yang dalam antara kedua negara, meninggalkan luka pengkhianatan di hati sebagian besar warga Israel. Perkembangan selanjutnya di Swiss akan sangat menentukan arah hubungan bilateral ini dan implikasinya terhadap stabilitas Timur Tengah.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All