Brasil di Piala Dunia 2026: Tanda Tanya Besar di Balik Kemenangan 3-0 atas Haiti

Danu Ilham

Filadelfia, Amerika Serikat – Sorak-sorai pendukung timnas Brasil memenuhi Lincoln Financial Field di Filadelfia, menciptakan atmosfer khas Piala Dunia yang penuh gairah. Gemuruh itu dibarengi dengan selebrasi gol yang tercipta di babak pertama. Brasil berhasil mengamankan kemenangan telak 3-0 atas Haiti dalam laga lanjutan Grup C Piala Dunia 2026. Dua gol dari Matheus Cunha dan satu gol indah dari Vinicius Jr. memastikan Selecao meraih poin penuh pertama mereka di turnamen ini.

Kemenangan ini mengukuhkan posisi Brasil di puncak klasemen sementara Grup C dengan empat poin dari dua pertandingan, membuka jalan lebar menuju babak 32 besar. Ini juga menjadi clean sheet pertama bagi tim Samba di edisi kali ini. Di tribun penonton, bendera kuning khas Brasil berkibar, sementara beberapa penggemar bahkan membawa replika trofi Piala Dunia, mengingatkan pada kejayaan masa lalu. Kehadiran legenda seperti Ronaldinho, yang merupakan bagian dari tim juara dunia 2002, semakin menambah nuansa nostalgia.

Namun, di balik euforia tersebut, pertanyaan besar masih menghantui: apakah ini Brasil yang sesungguhnya? Catatan statistik babak kedua menampilkan gambaran yang sedikit berbeda. Setelah jeda, permainan Brasil mendadak datar, bahkan mereka gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Sebaliknya, Haiti yang berada lebih dari 80 peringkat di bawah Brasil dalam ranking FIFA, justru mampu menciptakan tujuh peluang tembak di paruh kedua.

Performa Brasil di Piala Dunia 2026 sejauh ini memang belum memperlihatkan ketajaman yang diharapkan. Jika dibandingkan dengan rival utama seperti Argentina dan Prancis yang sudah menunjukkan performa impresif di Amerika Serikat, Brasil masih seperti mencari bentuk terbaiknya. Setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Maroko di pertandingan pembuka Grup C di New Jersey, kemenangan melawan Haiti ini terasa kurang meyakinkan.

Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, mencoba meredam kekhawatiran tersebut dalam konferensi pers pasca-pertandingan. Ia mengakui bahwa babak pertama jauh lebih baik, namun ia melihat peluang tambahan untuk mencetak gol di babak kedua. "Secara keseluruhan, ini adalah pertandingan yang bagus," ujar Ancelotti, pelatih asal Italia yang ditunjuk pada Mei 2025 dengan misi mengakhiri penantian panjang Brasil akan gelar juara dunia keenam.

Menyinggung performa Matheus Cunha yang mencetak dua gol, Ancelotti belum memastikan apakah pemain Manchester United itu akan kembali mengisi posisi penyerang tengah di laga berikutnya melawan Skotlandia di Miami. "Kita lihat saja nanti. Saya pikir posisi Matheus sangat baik untuk menciptakan masalah bagi pertahanan lawan. Ia juga bisa menyalurkan umpan dengan baik, dan posisinya sangat efektif di lini depan. Ini bisa menjadi salah satu opsi. Kami sudah mendiskusikannya kemarin. Saya tidak ingin identitas tim yang kaku. Mungkin kami akan mengubahnya di pertandingan berikutnya," jelas Ancelotti.

Ancelotti juga mengomentari penampilan Vinicius Jr. yang kini telah mencatatkan enam keterlibatan gol dalam enam penampilan Piala Dunia (tiga gol, tiga assist). "Ini sesuai dengan ekspektasi saya untuk pertandingan ini. Kesalahan lebih sedikit dibandingkan melawan Maroko, lebih efektif dalam menyerang. Ini adalah pertandingan yang bagus," katanya.

Menatap laga melawan Skotlandia, Ancelotti menegaskan fokus timnya. "Kami tidak memikirkan tentang mengeliminasi Skotlandia. Kami memikirkan tentang bermain baik, memperbaiki diri, dan menganalisis pertandingan. Jika kami bisa mencapai posisi pertama grup, itu akan penting untuk masa depan. Jadi kami ingin mempersiapkan diri dengan baik untuk pertandingan itu. Skotlandia bisa menciptakan masalah. Mereka menciptakan masalah bagi Maroko. Jadi kami harus fokus pada pertandingan, tetap tenang, dan terus bekerja untuk menjadi lebih baik," tuturnya.

Salah satu keputusan Ancelotti yang sempat menimbulkan kejutan adalah pemanggilan Neymar ke dalam skuad. Pemain berusia 34 tahun ini dipanggil meskipun belum bermain untuk tim nasional sejak Oktober 2023 akibat masalah cedera betis. Neymar, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Brasil dengan 79 gol, bahkan tidak ikut terbang ke Filadelfia untuk pertandingan melawan Haiti.

Namun, Ancelotti mengonfirmasi bahwa Neymar akan tersedia untuk pertandingan melawan Skotlandia. "Ya, dia akan berlatih secara individu besok, dan kemudian bersama tim pada hari Senin. Dia akan tersedia untuk Skotlandia," kata Ancelotti.

Kembalinya Neymar diharapkan dapat memberikan suntikan moral dan kualitas bagi tim. Pakar sepak bola Eropa, James Horncastle, menilai bahwa Neymar adalah pemain yang sulit dihentikan dan selalu mengundang tekel dari lawan. Namun, ia yakin Ancelotti memiliki kemampuan untuk menyatukan para bintang dan membuat mereka bermain dalam satu kesatuan.

Di sisi lain, pakar sepak bola Prancis, Julien Laurens, memiliki pandangan berbeda. Ia meragukan kelayakan Neymar untuk berada di skuad Piala Dunia berdasarkan performa dan perilakunya belakangan ini. Laurens merujuk pada insiden di mana Neymar meminta maaf kepada rekan setimnya di Santos, Robinho Jr., setelah menampar pemain muda tersebut saat sesi latihan. "Saya tidak berpikir dia pantas berada di sana berdasarkan performa terakhirnya, serta perilaku dan sikapnya di dalam maupun di luar lapangan," ujar Laurens.

Pertanyaan mengenai apakah kehadiran Neymar akan mampu mengangkat performa Brasil masih menjadi misteri. Kehadiran sang megabintang memang selalu menjadi daya tarik tersendiri, namun apakah ia mampu membawa Brasil menemukan jati dirinya dan kembali menjadi kekuatan dominan di panggung dunia, masih harus dibuktikan di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Perjalanan Brasil di Piala Dunia 2026 masih panjang, dan publik menanti kapan "Brasil yang sesungguhnya" akan benar-benar menunjukkan taringnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All