Meloni Tegas Bantah Klaim Trump: ‘Italia Tidak Mengemis Foto!’

Heni Maulidya

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni membantah keras tudingan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut dirinya "mengemis" untuk berfoto bersama di sela-sela KTT G7 di Prancis. Meloni menegaskan bahwa klaim tersebut sepenuhnya tidak benar dan mengejutkan, mengingat Italia adalah sekutu Amerika Serikat.

Pernyataan kontroversial Trump ini muncul dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Italia, La7. Dalam wawancara yang disiarkan dengan sulih suara bahasa Italia, Trump mengklaim bahwa Meloni sangat berambisi untuk mendapatkan foto bersamanya, bahkan sampai memohon. "Dia kelihatannya senang saya berbicara dengannya. Sebenarnya saya tidak perlu berbicara dengan dia," ujar Trump, sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera. Trump melanjutkan, "Dia mengemis kepada saya untuk berfoto bersamanya. Dia sangat menginginkan foto bersama saya. Saya tidak akan mengambilnya, tapi saya merasa kasihan padanya."

Menanggapi klaim tersebut, Meloni menyatakan keheranannya atas sikap Trump yang dinilainya tidak pantas terhadap seorang pemimpin negara sekutu. Dalam sebuah video yang beredar, Meloni secara tegas menyatakan keterkejutannya dan mempertanyakan alasan di balik perilaku Trump terhadap sekutunya sendiri, yang menurutnya bukan kali pertama terjadi. "Pernyataan Donald Trump sepenuhnya fiktif. Saya sejujurnya terkejut. Saya tidak tahu mengapa Presiden Amerika Serikat bersikap seperti ini terhadap sekutunya sendiri. Lagipula ini bukan kejadian pertama kali," kata Meloni.

Ia menekankan bahwa Italia, di bawah kepemimpinannya, tidak pernah bersikap meminta-minta. "Ada satu hal yang harus dia ingat: Italia dan saya tidak mengemis," tegas Meloni, menunjukkan sikap teguh dan martabat negaranya. Meloni juga menyayangkan Trump tidak menunjukkan ketegasan yang sama terhadap musuh-musuh Barat atau musuh Amerika Serikat, menyiratkan adanya prioritas yang keliru dalam fokus Trump.

Hubungan Meloni dengan Trump sebenarnya terbilang dekat. Sebagai pemimpin partai sayap kanan ekstrem yang sering mengusung isu anti-imigran, Meloni kerap dianggap sebagai salah satu tokoh di Eropa yang paling mendukung Trump. Ia pernah bertemu dengan Trump di kediamannya di Mar-a-Lago setelah kemenangan Trump dalam pemilu 2024 dan juga menghadiri upacara pelantikannya pada Januari 2025. Kedekatan ini membuat pernyataan Trump yang merendahkan menjadi semakin mengejutkan.

Dampak dari pernyataan Trump ini tidak hanya terbatas pada percakapan politik. Hubungan diplomatik antara Italia dan Amerika Serikat dilaporkan memanas akibat insiden ini. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, bahkan memutuskan untuk membatalkan rencana kunjungannya ke Amerika Serikat yang sedianya dijadwalkan pada akhir pekan. Tajani seharusnya menghadiri forum bisnis di Miami, Florida, dan melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS. Ia menyebut pernyataan yang dilaporkan berasal dari pihak Trump sebagai sesuatu yang "serius dan ofensif."

Kritik keras juga datang dari pejabat tinggi Italia lainnya. Menteri Kehakiman Carlo Nordio menilai ucapan Trump telah menodai warisan para tentara Amerika Serikat yang gugur dalam Perang Dunia II demi membebaskan Italia dari kediktatoran Nazi. "Ribuan salib yang menandai makam para tentara Amerika yang gugur demi membebaskan kita dari kediktatoran Nazi-Fasis tidak pantas menerima pukulan yang begitu menyakitkan bagi ikatan persaudaraan kita," tulis Nordio dalam sebuah cuitan di platform X.

Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, dengan tegas menyatakan bahwa Meloni tidak akan pernah tunduk atau mengemis untuk sebuah foto, bahkan dalam situasi paling menekan sekalipun. "Lelucon semacam ini tidak ada gunanya bagi siapa pun: baik bagi AS, maupun bagi Italia, maupun bagi aliansi," ujarnya, menyoroti dampak negatif pernyataan tersebut terhadap hubungan aliansi.

Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi atau tanggapan terkait bantahan keras dari Perdana Menteri Italia dan kritik dari para menterinya. Insiden ini menunjukkan adanya ketegangan yang muncul dalam hubungan antara dua negara sekutu NATO, terutama terkait narasi dan persepsi yang dibangun oleh tokoh-tokoh politik besar di panggung internasional. Penggunaan platform media dan wawancara untuk saling melontarkan klaim, terutama yang bersifat personal, berpotensi menimbulkan friksi diplomatik yang tidak diinginkan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All