Perpecahan Internal Uni Eropa Mengemuka Akibat Manuver Diplomasi Rahasia ke Kremlin

Yohanes

Rapat Dewan Eropa di Brussels pada Kamis, 18 Juni 2026, diwarnai friksi tajam di antara para pemimpin Uni Eropa akibat rencana pembukaan jalur komunikasi diplomatik rahasia dengan Kremlin. Inisiatif yang disebut-sebut sebagai langkah sepihak ini memicu kekhawatiran serius mengenai potensi melemahnya solidaritas dan dukungan blok terhadap Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia.

Sumber-sumber terpercaya mengungkapkan bahwa Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, dilaporkan telah menginstruksikan kepala stafnya untuk menjajaki kontak luar negeri dengan Yuri Ushakov, salah seorang pembantu senior Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan tertutup yang berlangsung selama dua jam dan berlangsung tanpa penggunaan perangkat seluler ini segera memicu gelombang kritik pedas, terutama dari negara-negara seperti Prancis, Jerman, serta negara-negara Baltik yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menentang kebijakan Moskow.

Menanggapi dinamika yang berkembang, Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan pandangannya bahwa momentum saat ini sangat krusial bagi Uni Eropa untuk mulai mempersiapkan mandat negosiasi. Tujuannya adalah untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Namun, von der Leyen menekankan bahwa posisi Ukraina harus tetap menjadi pihak yang memegang kendali utama dalam setiap proses diplomasi yang akan ditempuh.

Dari pihak Kremlin, juru bicara Dmitry Peskov menyambut baik potensi dialog, namun dengan syarat. Ia menegaskan bahwa Moskow selalu siap membuka kembali komunikasi dengan negara-negara Eropa asalkan tidak berada di bawah tekanan ultimatum. Peskov menambahkan bahwa Rusia tidak memandang dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terputusnya jalur komunikasi selama ini.

"Kami bukan penggagas terhentinya kontak ini hingga titik nol. Akal sehat, tentu saja, mendikte perlunya kontak untuk membahas sejumlah besar isu yang sangat kompleks dan menjadi tantangan bagi kita semua," ujar Peskov, menggarisbawahi kesiapan Moskow untuk berdialog. Ia juga memberikan peringatan kepada negara-negara Barat agar tidak meremehkan kekuatan negosiasi Rusia. "Negara-negara Eropa keliru jika mengira negosiasi dengan Rusia harus dilakukan dari posisi kekuatan dan dengan asumsi bahwa Rusia lemah," tegasnya.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang turut hadir dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, dengan tegas menyatakan bahwa posisi negaranya terkait wilayah Donbas dan Krimea tidak dapat ditawar lagi. Hal ini didasarkan pada prinsip moralitas dan hukum internasional yang berlaku. Zelenskyy mengenang upaya negosiasi rahasia yang pernah dijajaki sebelumnya, termasuk melalui perantara pengusaha Rusia, Roman Abramovich.

"Dia datang ke Kyiv. Dia berkata, ‘Saya [membawa] pesan untuk Anda, dan saya ingin mengambil pesan dari Anda dan memberikannya kepada Putin’," ungkap Zelenskyy, merujuk pada pesan yang ingin ia sampaikan kepada Kremlin. Ia menegaskan, "Itu adalah pesan utamanya. Saya berkata, kami tidak akan mundur. Kami tidak akan memberikan kemenangan Anda dengan cara seperti itu." Zelenskyy kembali menekankan bahwa Ukraina tidak memiliki hak, baik berdasarkan hukum domestik, hukum internasional, maupun hukum moral, untuk menyerahkan sejengkal pun tanah kepada pihak agresor.

Sikap tegas juga diperlihatkan oleh sejumlah kepala negara Uni Eropa yang menganggap langkah Costa terlalu prematur dan berpotensi merusak upaya kolektif. Perdana Menteri Estonia, Kristen Michal, menyatakan, "Uni Eropa tidak bisa mengambil peran sebagai mediator dalam negosiasi ini."

Di sisi lain, dukungan justru mengalir dari Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever. Ia menilai Costa sebagai perwakilan alami yang sah untuk berbicara dengan Moskow. "Saya baru saja membicarakan Anda, Antonio! Bahwa Anda adalah satu-satunya yang bisa mewakili kami dan kami akan mengirim Anda ke Moskow sesegera mungkin," ungkap De Wever, menunjukkan dukungannya terhadap inisiatif Costa. Senada dengan itu, Perdana Menteri Slovenia, Janez Jansa, juga menyampaikan pandangannya demi menghentikan eskalasi konflik. "Setiap langkah yang dapat mengarah pada penghentian permusuhan dan negosiasi harus disambut baik," ujarnya.

Di tengah perdebatan politik internal Uni Eropa yang memanas, situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi yang terus meningkat. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Kyiv berhasil melancarkan serangan pesawat tanpa awak berskala besar yang sukses menghantam sebuah kilang minyak utama yang berlokasi di dekat Moskow. Insiden ini menambah kompleksitas situasi dan menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi upaya pencarian perdamaian di kawasan tersebut. Perpecahan di dalam Uni Eropa ini berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi Rusia, sekaligus menimbulkan ketidakpastian bagi masa depan dukungan terhadap Ukraina.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All