Vermont Dihantam Dua Tornado EF-1, Ribuan Warga Kehilangan Listrik

Yohanes

Vermont, Amerika Serikat – Badai hebat yang melanda wilayah Vermont pada Kamis, 18 Juni 2026 sore waktu setempat, memicu terhantamnya dua tornado dengan kategori EF-1. Meskipun dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, peristiwa cuaca ekstrem ini menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan dan memutus aliran listrik bagi ribuan rumah tangga di bagian selatan negara bagian tersebut. Layanan Cuaca Nasional (NWS) telah mengonfirmasi intensitas kedua fenomena alam ini.

Tornado pertama dilaporkan mendarat di wilayah Lincoln. Angin kencang yang menyertainya mencapai kecepatan maksimum 105 mil per jam (sekitar 169 km/jam). Jalur kerusakan tornado ini membentang dari South Lincoln, melintasi York Hill Road, hingga mencapai sebuah jurang. Jejak yang ditinggalkan tornado ini diperkirakan sepanjang sepertiga mil dengan lebar mencapai 200 yard. Pergerakan tornado ini menimbulkan kerusakan yang cukup parah pada bangunan dan vegetasi di sepanjang lintasan.

Tak lama berselang, tornado kedua mengamuk di West Woodstock. Kekuatan angin yang bertiup tercatat mencapai 100 mil per jam (sekitar 161 km/jam). Tornado ini bergerak melintasi lembah yang memanjang di sepanjang Rute 4. Jalur kerusakan yang ditimbulkannya cukup panjang, membentang antara sebuah sekolah menengah dan pusat perbelanjaan Bridgewater Mill Mall, dengan total jarak sekitar 1,3 mil. Dampak dari tornado kedua ini juga cukup merusak lingkungan sekitarnya.

Peristiwa ini menandai tornado kedua yang tercatat di Vermont sepanjang tahun 2026. Kerusakan yang diakibatkan oleh kedua tornado ini sangat beragam, mulai dari kerusakan panel surya yang terpasang di berbagai bangunan, gudang logam yang rata dengan tanah, hingga kerusakan parah pada atap-atap bangunan. Struktur kayu yang rapuh tak kuasa menahan terpaan angin kencang dan tertimpa pohon-pohon yang tumbang, menambah daftar kerusakan yang ada. Skala kerusakan ini menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan angin yang dibawa oleh kedua tornado tersebut.

Selain ancaman tornado, NWS juga mengeluarkan peringatan banjir tingkat rendah untuk wilayah utara Vermont. Peringatan ini dikeluarkan menyusul adanya laporan meluapnya Sungai Barton di Coventry dan Sungai Missisquoi di North Troy. Curah hujan yang tinggi akibat badai yang menyertai tornado diduga menjadi penyebab utama meluapnya kedua sungai tersebut, yang berpotensi menimbulkan genangan air di area permukiman yang berdekatan.

Dampak dari cuaca ekstrem yang melanda Vermont ini tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut. Hembusan angin kencang non-badai juga dilaporkan meluas hingga ke wilayah New England utara dan Massachusetts. Di Claremont, New Hampshire, tercatat hembusan angin mencapai 64 mil per jam (sekitar 103 km/jam). Sementara itu, di Bandara Logan, Boston, Massachusetts, kecepatan angin tercatat mencapai 44 mil per jam (sekitar 71 km/jam). Tingkat kecepatan angin ini menunjukkan cakupan luas dari sistem badai yang tengah berlangsung.

Analisis lebih lanjut mengenai penyebab terjadinya tornado di Vermont, yang secara historis jarang terjadi, masih terus dilakukan oleh para ahli meteorologi. Lokasi geografis Vermont yang dikelilingi pegunungan seringkali memberikan perlindungan alami dari fenomena cuaca ekstrem. Namun, perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu belakangan ini diduga menjadi faktor yang turut berperan dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, termasuk tornado, di berbagai wilayah yang sebelumnya dianggap aman.

Kategori EF-1 sendiri merujuk pada skala Enhanced Fujita yang digunakan untuk mengklasifikasikan kekuatan tornado berdasarkan kerusakan yang ditimbulkannya. Tornado EF-1 memiliki kecepatan angin antara 65 hingga 85 mil per jam, yang mampu menyebabkan kerusakan ringan seperti kerusakan atap, jendela pecah, dan pohon tumbang. Kecepatan angin 105 mil per jam yang tercatat di Lincoln menunjukkan bahwa tornado tersebut berada di ujung atas skala EF-1, dengan potensi kerusakan yang lebih signifikan.

Bagi masyarakat yang terdampak, upaya pemulihan pasca-bencana telah dimulai. Pihak berwenang setempat bekerja sama dengan berbagai lembaga terkait untuk membersihkan puing-puing, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan memulihkan pasokan listrik secepat mungkin. Asosiasi manajemen bencana negara bagian telah mengaktifkan posko tanggap darurat untuk membantu warga yang membutuhkan.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi badai susulan dan mengikuti perkembangan informasi cuaca terkini dari sumber resmi seperti NWS. Pendataan kerusakan secara rinci juga terus dilakukan untuk menaksir kerugian yang ditimbulkan dan merencanakan bantuan jangka panjang bagi para korban. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam yang semakin tak terduga.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All