Ternate: Pohon Cengkeh Berusia Ratusan Tahun Tumbang, Saksi Bisu Sejarah dan Perubahan Zaman

Emanuel

Sebuah tunas baru yang segar, menjulang lebih dari dua meter dengan batang kokoh dan daun hijau rimbun, kini berdiri tegak. Di bawahnya, terhampar batang pohon tua yang lapuk, terkikis oleh waktu dan kekuatan alam yang tak tertahankan. Meskipun telah dilindungi oleh tembok, dinding pelindung itu pun tak mampu menahan dahsyatnya perubahan zaman. Tembok yang mengelilinginya pun turut runtuh. Ini adalah kisah Cengkeh Afu 2, salah satu dari tiga pohon cengkeh legendaris di Ternate, yang akhirnya menyerah pada pelapukan setelah ratusan tahun menjadi saksi bisu peradaban.

Terletak di lereng Gunung Gamalama, tepatnya di Kelurahan Tongole, Ternate, Maluku Utara, pohon-pohon cengkeh ini bukan sekadar vegetasi. Mereka adalah arsip hidup, penjaga memori sejarah yang melintasi Ternate, Indonesia, bahkan dunia. Selama berabad-abad, Cengkeh Afu telah berdiri kokoh, menyaksikan pergolakan politik, perselisihan sosial, badai dahsyat, gempa bumi, hingga letusan gunung berapi. Namun, tak ada yang bisa melawan kekuatan waktu yang perlahan menggerogoti daya tahan biologisnya.

Secara umum, masyarakat mengenal tiga generasi Cengkeh Afu. Generasi ketiga, atau Cengkeh Afu 3, adalah yang pertama kali tumbang. Daunnya mengering, rantingnya rapuh, dan akarnya yang menopang hidupnya akhirnya menyusul kepergian seluruh bagian pohon. Pohon ini, yang usianya lebih muda dan lokasinya lebih dekat dengan akses manusia, menjadi yang pertama menyerah pada perubahan zaman.

Sementara itu, Cengkeh Afu 2, yang baru saja tumbang dan digantikan oleh tunas baru, adalah generasi kedua. Pohon yang paling tua dan terbesar adalah Cengkeh Afu 1. Batang raksasanya, dengan banir-banir kokoh yang menancap dalam ke tanah, membutuhkan enam orang dewasa yang merentangkan tangan secara bersamaan untuk melingkupinya. Anehnya, meskipun paling tua, Cengkeh Afu 1 yang berada di ketinggian dan terpencil justru menunjukkan daya tahan yang lebih kuat. Ia mampu bertahan lebih lama dibandingkan dua saudaranya yang lebih muda, seolah lokasi yang jauh dari keramaian menjadikannya lebih steril dan terlindungi.

Kendati demikian, berada di ketinggian tidak lantas membuatnya terlepas dari denyut kehidupan Ternate. Cengkeh Afu 1 juga turut merasakan pasang surut harga cengkeh, yang berarti ia pun merasakan suka duka para petani cengkeh. Sebaliknya, Cengkeh Afu 3, yang paling muda dan paling mudah dijangkau, justru menjadi yang pertama tumbang. Penulis beropini bahwa ini bukan semata-mata karena kelemahan melawan alam, melainkan karena pohon ini telah menyaksikan lebih banyak penderitaan dan perubahan etika manusia yang kian menjauh dari harmoni alam.

Beban sejarah manusia yang ditanggung Cengkeh Afu 3 tampaknya terlalu berat. Sebagai pohon yang pertama kali berinteraksi langsung dengan aktivitas manusia, seperti pembangunan jalan, pemukiman, dan infrastruktur, ia merasakan dampak langsung dari gangguan terhadap mekanisme pendukung hidupnya. Akibatnya, dua saksi sejarah perjalanan Pulau Ternate ini akhirnya tergerus oleh kuasa zaman, satu per satu tumbang dan digantikan oleh generasi baru.

Pohon-pohon cengkeh ini bukan hanya merekam sejarah alam, tetapi juga sejarah sosial Ternate, termasuk perjuangan, gejolak, dan bahkan pengkhianatan. Di ketinggian yang hampir sama dengan Cengkeh Afu, bersemayam pula makam Sultan Babullah, tokoh heroik Ternate yang gigih memperjuangkan kedaulatan bangsa.

Perjalanan menuju lokasi Cengkeh Afu bukanlah hal yang mudah. Motor yang dikendarai beberapa kali hampir tidak kuat menanjak, memaksa pengemudi untuk menggunakan strategi zig-zag agar bisa melewati tanjakan curam dengan kelokan tajam. Setibanya di tepi jalan kecil yang datar, tempat parkir sederhana, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan mencari informasi.

Seorang ibu penjaga warung kecil yang menjual jajanan dan minuman dengan antusias menunjuk arah dan memberikan petunjuk detail mengenai perjalanan selanjutnya. Melalui jalan setapak yang sebagian besar sudah rusak, meski ada bagian yang dicor, kami melangkah perlahan. Di belakang warung tersebut, terdapat "kuburan" Cengkeh Afu 3, generasi termuda dari "Tiga Serangkai Cengkeh Afu". Sisa-sisa bangunan yang runtuh mengelilinginya.

Menurut Fando, tukang ojek yang menemani penulis, tempat ini beberapa tahun lalu merupakan destinasi wisata yang ramai. Pengunjung dari Ternate maupun daerah lain berdatangan, bahkan banyak yang berkemah. Keramaian ini menarik minat para pedagang untuk membuka usaha. Namun, daya tarik Cengkeh Afu tampaknya memudar, membuat para pedagang pun pergi, menyisakan reruntuhan bangunan dan kenangan.

Perjalanan ini bagai menyingkap tabir sejarah Ternate yang buram, penuh dengan berbagai versi cerita dan jurang curam yang mengintai. Meskipun jaraknya kurang dari 500 meter, perjalanan ini terasa melelahkan, layaknya menelusuri fakta-fakta kelam. Di tengah perjalanan, bukan hanya pohon-pohon tua yang menjadi saksi keserakahan manusia yang terlihat. Dari ketinggian Tongole, tampak pula kerusakan ekosistem alami akibat eksploitasi sumber daya alam, seperti penambangan nikel di Pulau Halmahera yang terus berlangsung.

Sama seperti Ternate yang terus bergerak, pohon-pohon tua di sekitar lokasi Cengkeh Afu 2 tampak lelah. Buah-buah mereka dipanen demi memenuhi kebutuhan manusia yang kian serakah. Cengkeh, yang seharusnya berbuah setiap lima tahun, kini harus menyaksikan generasi penerus yang mengabaikan hak-hak bumi, laut, dan pohon. Manusia hanya mengambil keuntungan tanpa memberikan timbal balik atau ucapan terima kasih kepada alam.

Meskipun tradisi seperti sedekah bumi dan kololi kie (mengelilingi pulau) masih ada, nilai-nilai sakral dan spiritualitasnya perlahan menguap seiring gemerlapnya kota Ternate yang secara kasat mata semakin bersinar, namun meredup dalam tradisi. Fenomena ini umum terjadi di mana pun kota semakin terbuka, nilai-nilai baru datang bersama kedatangan manusia.

Seperti kata Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam tradisi ada yang tetap dan ada yang berubah. Tampilan Ternate memang berubah, namun dengan masih dilaksanakannya banyak tradisi, nilai-nilai lama tetap dipertahankan, diperkaya oleh tradisi lain yang hadir. Denyut zaman terus berdetak, perubahan selalu terjadi. Namun, layaknya budaya, cengkeh dan Cengkeh Afu memiliki daya lenturnya sendiri.

Cengkeh Ternate akan selalu diburu dan dirindukan, tidak hanya oleh masyarakat Nusantara, tetapi juga oleh masyarakat dunia. Cengkeh Ternate memiliki eksotisme tersendiri dan terkait erat dengan ingatan kolektif manusia: sejarah. Di bagian bawah Cengkeh Afu, Komunitas Cengkeh Afu dan Gamalama Spices berjuang tidak hanya menjaga kelangsungan hidup Cengkeh Afu dan cengkeh lainnya, tetapi juga melestarikan berbagai tradisi terkait cengkeh, termasuk kuliner.

Komunitas ini menawarkan menu-menu yang didominasi oleh rempah-rempah, makanan khas Nusantara dengan aroma khasnya, terutama cengkeh dan pala. Upaya mereka menjadi jembatan antara masa lalu yang kaya akan sejarah dan masa depan yang menjanjikan kelestarian budaya dan kekayaan rempah Ternate.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All