Lima bulan berlalu, namun luka mendalam akibat serangan di sebuah sekolah di Minab, Iran, masih terasa getir. Peristiwa tragis ini merenggut nyawa 120 anak, meninggalkan duka yang tak terperikan bagi keluarga dan masyarakat.
Seorang guru dan seorang ibu yang selamat dari insiden mengerikan itu berbagi kisah pilu, menggambarkan kengerian yang mereka alami. “Apa kejahatan mereka?” tanya seorang ibu dengan suara bergetar, meratapi nasib anak-anak yang tak berdosa. Kengerian itu masih membekas, seperti yang diceritakan oleh seorang guru yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
BBC baru-baru ini mengunjungi sekolah yang menjadi saksi bisu tragedi tersebut di Minab. Kunjungan ini mengungkap betapa dalam luka yang ditinggalkan oleh serangan tersebut, di mana para guru dan orang tua masih berjuang untuk memahami mengapa dan bagaimana tragedi ini bisa terjadi. Suasana di sekolah masih diselimuti kesedihan, dengan cerita-cerita yang terus bergema tentang kehilangan yang begitu besar.
Pihak berwenang Iran telah melakukan investigasi terhadap insiden tersebut, namun bagi para korban dan keluarga mereka, keadilan dan jawaban atas pertanyaan yang menghantui masih sangat dinantikan. Pertanyaan “Apa kejahatan mereka?” terus menggema, mencerminkan kepedihan dan kebingungan yang mendalam atas hilangnya ratusan nyawa anak-anak secara brutal.
Meskipun waktu terus berjalan, kisah para penyintas dan keluarga yang ditinggalkan menjadi pengingat kuat akan pentingnya perdamaian dan perlindungan bagi generasi muda. Tragedi di Minab ini menjadi catatan kelam yang diharapkan tidak akan terulang kembali di masa depan.
