Menyingkap Tabir Kematian Jurnalis: Perjalanan Panjang Mengungkap Pelaku Penembakan Ersa Siregar

Heni Maulidya

Sebuah misteri yang membayangi selama lebih dari dua dekade akhirnya mulai terkuak. Upaya gigih untuk menyingkap pelaku penembakan terhadap jurnalis Ersa Siregar, yang terjadi pada 29 Desember 2003, membawa pada serangkaian penelusuran mendalam, wawancara dengan berbagai pihak, dan pengumpulan potongan-potongan informasi yang tersebar. Perjalanan ini bukan hanya sekadar mencari jawaban atas sebuah tragedi, tetapi juga upaya untuk memahami kompleksitas konflik yang melatarbelakanginya.

Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Ersa Siregar bermula dari penyanderaan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 29 Juni 2003. Bersama dengan kolega kameramannya, Fery Santoro, Ersa diculik saat sedang dalam perjalanan. Selama enam bulan, mereka hidup dalam ketidakpastian di kawasan rawa Aceh, terperangkap dalam gubuk panggung sederhana. Fery Santoro, yang kini berusia 65 tahun, menjadi saksi kunci dalam peristiwa tersebut. Ia mengingat dengan jelas detik-detik menegangkan saat serangan TNI ke kamp GAM terjadi.

"Dung. Dung. Dung. Dung. Dung. Suaranya nyaring. Saya lompat, kami menyelamatkan diri masing-masing," kenang Fery saat ditemui di sebuah taman di Jakarta Pusat. Dalam kekacauan serangan itu, Fery berhasil selamat, namun Ersa Siregar dan satu anggota GAM lainnya tewas akibat tembakan yang disebut sebagai "salah sasaran". Fery sempat memiliki naluri untuk kembali ke gubuk demi memastikan keselamatan Ersa, namun sebuah bisikan batin mencegahnya. Dua hari kemudian, kabar duka itu pun ia terima.

Untuk menyusun kembali kepingan memori yang telah berusia lebih dari dua puluh tahun, tim investigasi melakukan perjalanan ke berbagai lokasi dan berbicara dengan pihak-pihak yang terlibat. Salah satunya adalah Dicky Martiaz, produser dan kolega Ersa Siregar. Dicky mengungkapkan sebuah pengakuan mengejutkan yang pernah ia terima beberapa tahun lalu.

"Tiba-tiba telepon di studio berdering. Seorang pria menelepon, meminta maaf atas kematian ayah saya, dan mengatakan itu adalah kecelakaan," ujar Dicky. Penelepon misterius itu hanya memperkenalkan diri dengan panggilan "Ucok". Ia mengaku sebagai bagian dari tim yang menerima perintah untuk menyergap kelompok GAM di titik tertentu. Namun, ia tidak mengetahui siapa saja yang berada dalam kelompok tersebut, sehingga mereka bertindak sesuai perintah.

Di sisi lain, upaya pembebasan Ersa Siregar juga dilakukan oleh kolega lainnya di Aceh, Munir Noer. Munir, yang membantu Ersa mencari rumah sewaan untuk kru RCTI di Aceh, berbulan-bulan melobi GAM untuk membebaskan Ersa. Ia menjadi satu-satunya orang di luar pihak militer yang sempat melihat jenazah Ersa di kamar mayat sebelum diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan pada 30 Desember 2003.

Dalam wawancara di Aceh, Munir menceritakan sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anggota Marinir tak lama setelah kematian Ersa. Anggota Marinir tersebut, yang hanya dikenalnya dari nama belakangnya, mendatangi Munir dan menyampaikan permintaan maaf. "Abang Munir, maaf, maaf, saya mau meminta maaf. Minta maaf, kami tidak sengaja. Kami tidak tahu itu Pak Ersa," ujar anggota Marinir tersebut. Pengakuan ini menjadi petunjuk penting, mengarahkan tim investigasi pada kemungkinan keterlibatan pasukan Marinir.

Munir juga memberikan petunjuk penting terkait identitas penculik Ersa, yaitu seorang pria bernama Awi. Pria yang memiliki nama asli Tengku Kafrawi ini adalah salah satu anggota GAM yang mencegat mobil Ersa dan rombongannya. Ia mengaku curiga karena ada dua jurnalis pria dalam satu mobil bersama dua perempuan yang ternyata adalah istri anggota TNI. Kecurigaan inilah yang menjadi alasan GAM menyandera mereka.

Tengku Kafrawi menceritakan bahwa ia membawa para sandera ke tempat persembunyian di sebuah desa terpencil. Ketika ditanya apakah Ersa pernah bercerita tentang keluarganya, Tengku Kafrawi menjawab, "Ada. Beliau cerita tentang Iwan (Ridhwan) yang sedang kuliah." Kisah ini menghangatkan hati tim investigasi, menunjukkan sisi kemanusiaan Ersa di tengah situasi yang mencekam. Namun, peran Tengku Kafrawi dalam kasus ini hanya sebatas dua hari penahanan sebelum ia menyerahkan para sandera kepada anggota GAM lainnya.

Pertanyaan besar yang terus menggelayuti pikiran tim investigasi adalah mengapa militer tidak berusaha lebih keras untuk membebaskan Ersa. Letnan Jenderal (Purn) Bambang Darmono, yang menjabat sebagai komandan militer Indonesia di Aceh hingga awal Desember 2003, memberikan jawaban samar ketika dihubungi. "Kalau tidak salah, Marinir itu," ujarnya, mengindikasikan keterlibatan pasukan Marinir dalam insiden tersebut. Namun, ia enggan memberikan penjelasan lebih lanjut karena saat kejadian, ia sudah tidak lagi menjabat.

Setelah berminggu-minggu pencarian dan wawancara yang belum memberikan jawaban pasti, tim investigasi kembali pada petunjuk awal: pengakuan anggota Marinir kepada Munir. Dengan berbekal nama belakang sang Marinir, Kiki dan tim melanjutkan pencarian. Setelah hampir satu bulan, mereka berhasil menemukan orang yang dimaksud.

Pejabat militer aktif yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebut saja "Y", akhirnya memberikan pengakuan. Ia membenarkan bahwa timnya adalah penembak yang menewaskan Ersa Siregar dua dekade lalu. Setelah berulang kali mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan tanpa hasil, Y akhirnya setuju untuk bertemu dan bercerita dengan syarat identitasnya tidak diungkap dan percakapan tidak direkam. Pengakuan Y ini menjadi penutup dari perjalanan panjang pencarian kebenaran atas tragedi yang menimpa Ersa Siregar, seorang jurnalis yang gugur saat menjalankan tugasnya. Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para pekerja media, terutama di zona konflik.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All