Trump Ungkap Kolaborasi Raksasa Teknologi AS, Apple & Intel Bersatu Bangun Chip di Negeri Paman Sam

Emanuel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan terobosan besar dalam industri teknologi domestik, mengungkap kesepakatan kolaborasi antara raksasa teknologi Apple dan Intel untuk memproduksi chip di Amerika Serikat. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Trump melalui platform media sosialnya, menggarisbawahi ambisinya untuk mengembalikan dominasi manufaktur teknologi ke tanah air.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump tidak ragu melontarkan kritik terhadap para pemimpin AS sebelumnya, yang menurutnya telah abai terhadap pentingnya industri semikonduktor. Ia menuding para pendahulunya telah membiarkan pabrik-pabrik krusial untuk produksi chip berpindah ke luar negeri, seperti Taiwan dan negara lain. "Presiden-presiden yang bodoh menganggap ekonomi kita akan baik-baik saja dan membiarkan Taiwan serta negara lain mencuri pabrik semikonduktor kita," tegas Trump, mengutip laporan dari CNBC Internasional.

Kesepakatan antara Apple dan Intel ini, jika terealisasi, menandai langkah signifikan dalam upaya AS untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global, terutama dari Asia Timur. Trump menyatakan, "Apple telah setuju bekerja sama dengan Intel untuk merancang dan membangun chip mereka di Amerika." Pernyataan ini langsung mendapatkan respons positif dari pasar finansial. Saham Intel tercatat melonjak tajam, sempat mencapai kenaikan 10% dan ditutup menguat 8,8% pada perdagangan pra-pasar. Sementara itu, saham Apple menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,3%.

Performa saham Intel dalam setahun terakhir memang patut diperhitungkan. Setelah melalui periode yang menantang dan kehilangan dominasi di pasar chip global, saham perusahaan ini telah membukukan lonjakan luar biasa sebesar 464% dalam 12 bulan terakhir. Kapitalisasi pasarnya kini menembus angka fantastis US$608,7 miliar, menunjukkan pemulihan kepercayaan investor.

Meskipun Trump telah mengumumkan kesepakatan tersebut, hingga kini belum ada tanggapan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Intel, Apple, Gedung Putih, maupun Kantor Perwakilan Taipei di Inggris. Situasi ini meninggalkan ruang bagi antisipasi dan konfirmasi lebih lanjut mengenai detail implementasi kerja sama ini.

Intel sendiri telah menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam persaingan di ranah kecerdasan buatan (AI). Perusahaan ini sempat tertinggal dalam inovasi dan mengalami kendala manufaktur, serta kesulitan menarik pelanggan besar untuk bisnis fabrikasi chip atau foundry yang sedang mereka kembangkan. Namun, angin segar mulai bertiup setelah Lip-Bu Tan mengambil alih posisi CEO pada awal tahun lalu.

Di bawah kepemimpinan Tan, Intel menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Perusahaan ini kembali menarik perhatian investor Wall Street berkat dukungan investasi dari Nvidia dan inisiatif pemerintah AS di bawah administrasi Trump. Trump sendiri secara eksplisit menyatakan perannya dalam mendorong kerja sama ini, dengan tujuan utama mengembalikan produksi chip ke Amerika Serikat.

"Saya memutuskan membantu Intel karena kita harus merancang dan membangun chip kita di sini, di Amerika," ujar Trump, menegaskan komitmennya terhadap industrialisasi domestik. Ia juga membeberkan bahwa pemerintahannya telah proaktif dalam memfasilitasi kolaborasi antara Intel dengan perusahaan teknologi besar lainnya. "Pertama, kami membantu menghadirkan Nvidia, dan mereka setuju membangun chip tingkat pertama mereka bersama Intel," ungkapnya.

Lebih lanjut, Trump mengklaim bahwa Elon Musk juga telah menyatakan komitmennya untuk terlibat dalam proyek pabrik chip raksasa bersama Intel. "Berikutnya, Elon setuju membangun TerraFab miliknya, pabrik chip terbesar di dunia, yang dirancang bersama tim teknologi Intel," tambah Trump. Proyek TerraFab ini akan menjadi tonggak penting bagi bisnis foundry Intel, yang selama ini lebih banyak berfokus pada produksi chip untuk kebutuhan internal perusahaan.

Pengumuman ini datang di tengah ketegangan geopolitik global yang berimbas pada gangguan rantai pasok dan kenaikan harga komoditas, termasuk minyak. Meskipun demikian, sektor teknologi yang berkaitan dengan AI justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Fenomena booming AI terus mendorong investor untuk memburu saham perusahaan teknologi, terutama yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur AI, termasuk para produsen chip.

Ketahanan sektor ini tercermin dalam kinerja indeks PHLX Semiconductor Sector Nasdaq, yang mencakup 30 perusahaan chip terbesar yang diperdagangkan di bursa AS. Sepanjang tahun ini, indeks tersebut telah mencatat lonjakan signifikan sekitar 90%, menandakan optimisme pasar terhadap prospek industri semikonduktor di masa depan. Kerja sama antara Apple dan Intel, yang diinisiasi oleh intervensi langsung Presiden Trump, diharapkan dapat semakin memperkuat posisi AS dalam peta industri teknologi global dan mendorong inovasi di dalam negeri.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All