Bendung Katulampa di Bogor, Jawa Barat, kini tengah dilanda kekeringan parah. Kondisi ini menyebabkan aliran Sungai Ciliwung yang melintasinya menyusut drastis, bahkan berubah menyerupai daratan. Fenomena ini telah berlangsung lebih dari sebulan dan menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan warga sekitar.
Menurut penuturan warga, telah lebih dari satu bulan kawasan Bendung Katulampa mengalami kondisi kekeringan yang memprihatinkan. Sungai yang biasanya mengalir deras kini tampak tandus, memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap pasokan air dan ekosistem setempat.
Kepala Bendung Katulampa, Arief Rahman, mengkonfirmasi bahwa debit air di bendungan tersebut mengalami penurunan signifikan. Ia menjelaskan, “Saat ini debit air di Bendung Katulampa tercatat hanya 0,5 meter kubik per detik.” Angka ini jauh di bawah normalnya, yang biasanya mencapai 20 meter kubik per detik.
Penurunan drastis ini berdampak langsung pada tinggi muka air di Bendung Katulampa. Arief Rahman menambahkan, “Ketinggian air di Bendung Katulampa kini hanya 1.580 meter dari permukaan laut, padahal normalnya bisa mencapai 1.600 meter.” Perbedaan ketinggian ini semakin memperjelas betapa parahnya kondisi kekeringan yang melanda.
Akibat kekeringan ini, masyarakat yang bergantung pada aliran Sungai Ciliwung mulai merasakan dampaknya. Kekhawatiran akan ketersediaan air bersih dan potensi gagal panen bagi petani mulai menghantui. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
