Amazon Siap Gempur Pasar Chip AI Nvidia, Jual Chip Trainium ke Pihak Ketiga

Yohanes

Jakarta – Amazon.com Inc. secara resmi mengumumkan rencana strategisnya untuk membuka pasar chip kecerdasan buatan (AI) rancangan sendiri, Trainium, kepada perusahaan eksternal. Langkah ini, yang mulai dibahas secara intensif sejak Jumat, 19 Juni 2026, diproyeksikan menjadi manuver besar untuk menantang dominasi pasar yang selama ini dipegang oleh Nvidia Corp. Bloombergtechnoz melaporkan bahwa negosiasi dengan calon mitra potensial telah dimulai.

Peter DeSantis, Kepala Divisi AI Amazon, mengonfirmasi bahwa raksasa komputasi awan terbesar di dunia ini tengah aktif menjajaki pembicaraan dengan berbagai pihak. Meskipun belum bersedia merinci identitas calon klien, DeSantis menegaskan komitmen Amazon untuk terus memperluas jangkauan infrastruktur AI mereka. "Kami memandang infrastruktur AI sebagai bidang yang berkembang pesat. Dan kami terus mencari cara untuk menjangkau lebih banyak pelanggan," ujarnya.

Chip akselerator Trainium pertama kali diperkenalkan oleh Amazon pada tahun 2020. Sejak saat itu, chip ini telah menjadi tulang punggung bagi sejumlah pemain besar di industri teknologi, termasuk OpenAI, Anthropic PBC, dan Uber Technologies Inc. Hingga kini, para pengguna tersebut mengakses kekuatan pemrosesan Trainium secara tidak langsung melalui platform komputasi awan Amazon Web Services (AWS).

Langkah Amazon untuk menjual chip AI secara langsung kepada pihak ketiga ini mengindikasikan ambisi yang lebih besar dalam pasar yang sangat kompetitif. Data hingga April 2026 menunjukkan komitmen pendapatan yang dihasilkan dari chip Trainium telah melampaui angka fantastis, yaitu lebih dari US$225 miliar atau setara dengan Rp4.014 triliun. CEO Amazon, Andy Jassy, sebelumnya telah memberikan sinyal kuat mengenai potensi ini dalam surat terbarunya kepada para pemegang saham, menyoroti peluang besar dari penjualan langsung tumpukan chip AI tersebut.

Keputusan ini juga dapat diartikan sebagai upaya Amazon untuk memperkuat posisinya di sektor AI, yang belakangan ini terasa semakin sengit. Ledakan tren kecerdasan buatan generatif, yang dipicu oleh popularitas ChatGPT, telah mendorong peningkatan permintaan layanan cloud lokal atau "sovereign" di Eropa. Kebutuhan akan pemrosesan data yang dilakukan di dalam negeri, sesuai dengan regulasi setempat, membuka peluang baru sekaligus tantangan bagi penyedia layanan cloud global.

Persaingan di ranah chip AI semakin memanas dengan langkah kompetitor utama lainnya. Alphabet Inc., melalui CEO Sundar Pichai, telah mengumumkan pengiriman Tensor Processing Units (TPU) kepada kelompok pelanggan terpilih. Dalam konteks ini, Amazon berupaya untuk tidak hanya menjadi penyedia infrastruktur, tetapi juga menjadi pemasok komponen kunci.

Menanggapi dinamika pasar global dan potensi hambatan regulasi, Peter DeSantis tetap optimistis. Ia menegaskan bahwa kehadiran regulasi lokal di Eropa tidak serta merta mengganggu kinerja bisnis AWS secara keseluruhan. "Masih banyak potensi yang belum termanfaatkan dalam AI. Saya tidak khawatir soal itu," tegasnya.

Lebih lanjut, DeSantis mengungkapkan bahwa versi ketiga chip Trainium yang diluncurkan pada awal tahun ini telah hampir habis terjual. Tingginya permintaan pasar juga terlihat pada versi keempat yang dijadwalkan untuk tahun mendatang. Selain Trainium, Amazon juga mencatat pertumbuhan signifikan pada chip prosesor serbaguna Graviton. Perangkat keras ini kini mulai dipasok untuk memenuhi kebutuhan Meta Platforms Inc., menunjukkan diversifikasi strategi Amazon dalam pasar semikonduktor.

Penjualan langsung chip Trainium ini diperkirakan akan memberikan tekanan lebih lanjut pada Nvidia, yang saat ini mendominasi pasar chip AI dengan produk GPU-nya. Dengan menawarkan solusi yang dirancang khusus untuk beban kerja AI, Amazon berpotensi menarik perusahaan-perusahaan yang mencari alternatif yang lebih efisien dan terukur untuk kebutuhan komputasi AI mereka.

Potensi keberhasilan Amazon dalam menjual chip Trainium ke pihak ketiga tidak hanya akan memperkuat portofolio produk AWS, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam ekosistem AI global. Ini menandakan pergeseran lanskap industri di mana para raksasa teknologi semakin berlomba-lomba dalam pengembangan dan penyediaan perangkat keras AI yang canggih.

Perkembangan ini juga menggarisbawahi tren yang lebih luas dalam industri teknologi, yaitu vertikalisasi. Perusahaan-perusahaan besar tidak lagi hanya mengandalkan pemasok eksternal untuk komponen krusial, melainkan mulai mengembangkan dan bahkan menjual produk mereka sendiri. Hal ini memungkinkan kontrol yang lebih besar atas rantai pasokan, inovasi yang lebih cepat, dan potensi margin keuntungan yang lebih tinggi. Dengan langkah ini, Amazon jelas ingin memegang kendali lebih atas masa depan komputasi AI.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All