Pelatih Tim Nasional Skotlandia, Steve Clarke, secara terbuka menyuarakan kewaspadaannya terhadap potensi Maroko dalam pertandingan kedua Grup C Piala Dunia 2026. Clarke menilai tim berjuluk "Atlas Lions" itu kini memiliki kekuatan yang jauh lebih superior dibandingkan saat mereka secara mengejutkan menembus babak semifinal pada edisi 2022 di Qatar. Pernyataan ini dilontarkan menjelang bentrokan kedua tim yang dijadwalkan pada Sabtu, 20 Juni 2026, pukul 05.00 WIB.
Kedua tim datang ke pertandingan ini dengan modal yang cukup positif. Skotlandia berhasil mengamankan tiga poin perdana berkat kemenangan tipis 1-0 atas Haiti. Sementara itu, Maroko menampilkan performa impresif dengan menahan imbang tim kuat Brasil 1-1, sebuah hasil yang menunjukkan perkembangan signifikan dari tim asuhan Walid Regragui tersebut. Clarke menekankan bahwa Maroko bukan lagi tim yang sama seperti empat tahun lalu.
"Bagi saya mereka adalah tim yang sesungguhnya, tim papan atas," ujar Clarke, mengutip dari The Guardian pada Jumat, 19 Juni 2026. "Kita harus berada dalam performa terbaik untuk bersaing." Pernyataan ini menegaskan betapa ia memandang Maroko sebagai lawan yang sangat tangguh dan membutuhkan persiapan matang dari timnya.
Clarke memprediksi Maroko akan berusaha mendominasi penguasaan bola dalam pertandingan ini. Oleh karena itu, Skotlandia dituntut untuk tampil lebih klinis dan efektif dalam memanfaatkan setiap peluang yang tercipta. Kemampuan untuk beralih dari bertahan ke menyerang dengan cepat dan efisien akan menjadi kunci bagi "The Tartan Army" untuk bisa merepotkan pertahanan Maroko.
"Kita harus memastikan bahwa ketika kita menguasai bola, kita bisa menjadi ancaman bagi Maroko," tambahnya. Ini menunjukkan bahwa Clarke tidak hanya fokus pada pertahanan, tetapi juga bagaimana timnya bisa menciptakan gol dan membalikkan keadaan. Pendekatan pragmatis ini menjadi ciri khas Clarke selama membesut Skotlandia.
Menghadapi potensi superioritas Maroko, Clarke tidak menutup kemungkinan untuk melakukan perubahan taktik. Ia mengisyaratkan bahwa formasi 4-4-2 yang digunakan saat melawan Haiti mungkin akan dievaluasi. Clarke memiliki rekam jejak dalam menerapkan berbagai sistem permainan sesuai dengan kebutuhan lawan dan ketersediaan pemain.
"Setiap sistem yang pernah kami mainkan, kami telah banyak melatihnya. Saya telah menunjukkan selama masa jabatan saya sebagai pelatih kepala bahwa kami dapat memainkan sistem yang berbeda," jelas Clarke. Fleksibilitas taktik ini menjadi salah satu kekuatan Skotlandia di bawah asuhannya, memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan gaya bermain lawan yang berbeda-beda.
Clarke juga melihat posisi sebagai tim yang tidak diunggulkan memberikan keuntungan psikologis bagi para pemainnya. Tekanan yang lebih rendah memungkinkan pemain untuk bermain lebih lepas dan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Fokus utama, menurut Clarke, adalah performa di lapangan, bukan perhitungan matematis perolehan poin untuk lolos ke fase gugur.
"Anda hanya perlu bermain. Hal pertama adalah mencoba untuk menang, jika Anda tidak bisa menang maka jangan kalah. Permutasi dan hal-hal lain adalah urusan kalian dan semua petaruh untuk dipikirkan, bukan untuk kami," tegasnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya fokus pada setiap pertandingan secara individual.
Suasana di internal tim Skotlandia dilaporkan sangat positif setelah kemenangan di laga pembuka. Para pemain merasa puas dengan pencapaian tersebut dan bertekad untuk terus berjuang demi sejarah baru bagi Skotlandia di turnamen sebesar Piala Dunia. Latihan menjelang laga kontra Maroko berjalan dengan penuh semangat, menunjukkan antusiasme tim untuk menghadapi tantangan berikutnya.
"Para pemain merasa senang dengan diri mereka sendiri. Mereka ingin memenangkan pertandingan di turnamen besar dan telah melakukannya. Sekarang mereka menginginkan langkah selanjutnya, yaitu mendapatkan apa yang kita butuhkan dari dua pertandingan berikutnya untuk membuat sedikit sejarah bagi Skotlandia. Latihan hari ini sangat bersemangat. Kami merasa baik," ungkap Clarke.
Di tengah euforia dan persiapan tim, Steve Clarke juga menyempatkan diri untuk menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Donny Strathie, seorang suporter setia Skotlandia yang berusia 76 tahun. Strathie meninggal dunia setelah menyaksikan pertandingan melawan Haiti. Clarke menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan, menunjukkan sisi kemanusiaan di tengah persaingan kompetitif.
"Di tengah semua kabar baik yang datang dari Piala Dunia untuk Skotlandia, ini jelas sangat menyedihkan bagi keluarganya; putri-putrinya, cucu-cucunya. Pikiran dan belasungkawa saya bersama keluarganya," ujar Clarke.
Pertandingan melawan Maroko ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Skotlandia untuk mengukur sejauh mana kemajuan mereka. Keberhasilan Maroko di Piala Dunia 2022 bukan hanya sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras, pengembangan pemain yang konsisten, dan strategi yang matang. Kemampuan Maroko untuk tampil solid melawan tim-tim besar seperti Brasil menunjukkan bahwa mereka terus berkembang dan menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah sepak bola internasional.











