Pendiri Reddit, Alexis Ohanian, angkat bicara membela keputusannya menghadiri acara UFC Freedom 250 yang digelar di Gedung Putih pada akhir pekan lalu. Ia juga mengecam keras pernyataan menghina yang dilontarkan oleh salah satu petarung UFC terhadap mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama. Kritikan tajam dari publik dan warganet menghiasi media sosial setelah Ohanian tertangkap kamera berada di antara penonton acara Mixed Martial Arts (MMA) tersebut, yang ironisnya bertepatan dengan perayaan ulang tahun Presiden Donald Trump.
Kehadiran Ohanian dalam acara yang memicu kontroversi ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi sikap politiknya di mata publik. Menanggapi hal tersebut, Ohanian memberikan klarifikasi mendalam melalui akun media sosialnya pada Rabu malam, menjelaskan alasan di balik kehadirannya dan pandangannya terhadap insiden yang terjadi.
"Saya memiliki 5 tim olahraga profesional dan sebuah liga," ujar Ohanian, yang juga dikenal sebagai pengusaha teknologi sukses. Penegasan ini menjadi pembuka penjelasannya mengenai keterlibatannya dalam dunia olahraga yang lebih luas, yang mungkin menjadi salah satu faktor undangannya.
Lebih lanjut, Ohanian mengungkapkan bahwa dirinya hadir atas undangan pribadi dari TKO Group Holdings, perusahaan induk yang menaungi UFC. Undangan tersebut diterimanya sebagai bagian dari relasinya di industri olahraga. Namun, perhatian Ohanian segera teralih pada pernyataan yang dilontarkan oleh petarung kelas berat, Josh Hokit, di atas panggung pasca-pertandingan.
Josh Hokit dilaporkan melontarkan ujaran yang merujuk pada teori konspirasi transfobik dan rasis, dengan mengatakan, "Michelle Obama is a man, am I right America?" Pernyataan ini seketika memicu beragam reaksi dari penonton di lokasi, mulai dari sorakan ejekan, tawa dari sekelompok orang, hingga keheningan yang canggung.
Alexis Ohanian dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak mendukung, apalagi mendengarkan langsung pernyataan kontroversial tersebut saat itu. "Ya, hinaan petarung itu terhadap mantan Ibu Negara Michelle Obama sungguh keji dan tidak pantas," tegas Ohanian. Ia menambahkan bahwa dirinya sudah dalam perjalanan pulang saat komentar tersebut dilontarkan.
"Saya bersyukur melihat CEO UFC, Dana White, mengutuk pernyataan tersebut," lanjut Ohanian, menggarisbawahi respon cepat dari pihak promotor. Kendati demikian, kritik dari warganet tetap membanjiri media sosial. Banyak yang menyoroti bahwa istri Ohanian, Serena Williams, juga kerap menjadi sasaran serangan rasisme serupa yang menghina bentuk fisiknya, sehingga kehadiran suaminya di acara tersebut memunculkan pertanyaan empati.
Pihak promotor UFC, melalui pernyataan resminya tak lama setelah acara usai, langsung mengambil jarak dan mengutuk keras ucapan Hokit. "Itu omong kosong," kata Dana White, CEO UFC, merespons pertanyaan wartawan mengenai insiden tersebut. Sikap tegas ini menunjukkan bahwa UFC tidak membenarkan ujaran kebencian yang dilontarkan oleh atletnya.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memilih untuk tidak mengeluarkan kecaman terhadap pernyataan Hokit. Justru sebaliknya, Trump memberikan pujian kepada para atlet yang tampil dalam acara tersebut melalui unggahan di media sosialnya. "Luar biasa," puji Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dalam salah satu postingannya, menyoroti performa para petarung.
Acara UFC Freedom 250 yang diselenggarakan di halaman Gedung Putih ini memiliki agenda ganda yang signifikan. Selain menjadi ajang UFC, acara ini juga dimanfaatkan untuk merayakan ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump sekaligus menyambut peringatan hari jadi Amerika Serikat yang ke-250.
Perhelatan yang unik ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari berbagai sektor. Dari dunia teknologi, tampak hadir CEO Meta, Mark Zuckerberg, beserta istrinya. Sektor politik diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance. Sementara dari dunia olahraga, petinju kenamaan Tyson Fury juga turut memeriahkan acara tersebut, menunjukkan kolaborasi lintas bidang yang menarik.
Kehadiran Ohanian di acara ini, ditambah dengan kontroversi ujaran Hokit, membuka diskusi yang lebih luas mengenai tanggung jawab publik figur di era digital, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu sensitif seperti ras, gender, dan ujaran kebencian. Bagaimana para tokoh publik menavigasi undangan, pernyataan kontroversial, dan ekspektasi publik menjadi sorotan penting di tengah derasnya arus informasi dan opini di media sosial.











