Merayakan Tradisi, Imigrasi Taipei Sediakan Bacang Halal dan Non-Babi untuk Warga Asing

Yohanes

Taipei – Menjelang perayaan Festival Perahu Naga, sebanyak 360 warga negara asing yang menghuni pusat detensi Direktorat Jenderal Imigrasi di Taipei berkesempatan mengikuti kegiatan membuat bacang. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memberikan pengalaman budaya, tetapi juga menunjukkan komitmen Taiwan dalam menghargai keberagaman agama dan tradisi para penghuninya. Acara yang digelar pada Kamis, 18 Juni 2026 ini, secara khusus menyediakan bahan-bahan yang disesuaikan dengan karakteristik keagamaan masing-masing individu.

Upaya akomodasi kebutuhan diet dan kepercayaan agama terlihat jelas dalam penyediaan bahan makanan. Pihak panitia dengan cermat mengganti bahan utama bacang dari daging babi menjadi daging ayam. Perubahan ini dilakukan demi mengakomodasi mayoritas penghuni yang beragama Islam, khususnya mereka yang berasal dari Indonesia. Selain itu, bahan-bahan khas Asia Tenggara seperti daun pandan dan santan juga turut disediakan, memungkinkan para peserta untuk menciptakan cita rasa yang akrab dengan daerah asal mereka, memperkaya pengalaman kuliner di tengah masa penahanan.

Hung Shih-ming, Kepala Korps Administrasi Wilayah Utara NIA, menjelaskan dalam wawancara telepon bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memberikan suasana perayaan Festival Perahu Naga kepada para tahanan imigrasi. "Langkah ini sekaligus memperlihatkan komitmen masyarakat Taiwan dalam menjunjung tinggi serta menghargai keberagaman budaya," ujar Hung. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun berada di dalam fasilitas detensi, hak-hak budaya dan keagamaan para individu tetap diperhatikan dan dihormati.

Berdasarkan data statistik yang dihimpun dari fasilitas detensi tersebut, mayoritas penghuni didominasi oleh laki-laki. Populasi perempuan diperkirakan berkisar antara 50 hingga 70 orang dari total keseluruhan. Kelompok warga negara Vietnam menjadi populasi terbesar di fasilitas ini, diikuti oleh warga negara Indonesia. Kasus pekerja asing yang hilang kontak menjadi salah satu penyebab dominan banyaknya laki-laki yang berada di pusat detensi. Keberagaman latar belakang negara asal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pihak imigrasi untuk menyelenggarakan kegiatan yang inklusif.

Selain kegiatan kebudayaan, fasilitas detensi ini juga memanfaatkan momentum kebersamaan untuk menyisipkan agenda sosialisasi penting. Para penghuni diimbau untuk berperan aktif dalam pencegahan penyebaran Demam Babi Afrika. Mereka diingatkan untuk mengingatkan keluarga mereka di luar negeri agar tidak mengirimkan produk daging babi ke Taiwan melalui jalur pos. Tindakan ini penting untuk menghindari sanksi hukum beserta denda yang berlaku, sekaligus melindungi kesehatan hewan ternak di Taiwan.

Reaksi positif terhadap kegiatan ini datang dari para penghuni. Seorang warga negara Vietnam mengungkapkan rasa harunya, "Saya tidak menyangka bahwa di rumah detensi di Taiwan saya masih bisa membuat bacang sendiri dan menikmati cita rasa yang mengingatkan saya pada kampung halaman. Rasanya sangat hangat di hati," ujarnya, sebagaimana dikutip dari rilis pers. Pengalaman ini memberikan kehangatan emosional dan rasa nostalgia di tengah situasi yang sulit.

Bagi sebagian warga asing lainnya, pengalaman membuat bacang menjadi hal baru yang menarik. Meskipun belum pernah melipat adonan komoditas tradisional ini sebelumnya, mereka antusias untuk belajar. Bentuk geometris khas bacang menjadi tantangan tersendiri bagi para imigran. Seorang penghuni asal Filipina berbagi pengalamannya, "Saya merasa sangat puas dan bangga karena berhasil menyelesaikannya bersama peserta lainnya," katanya. Meskipun menemui kesulitan dalam mempelajari teknik membungkus bacang segitiga khas Taiwan, ia merasa bangga atas pencapaiannya.

Festival Perahu Naga, yang secara tradisional dirayakan dengan lomba perahu dan makan bacang, memiliki makna penting dalam budaya Tionghoa. Perayaan ini sering dikaitkan dengan peringatan penyair patriotik Qu Yuan. Di Taiwan, tradisi ini tetap dijaga kelestariannya, bahkan diperluas untuk merangkul komunitas multikultural yang ada.

Penyelenggaraan kegiatan semacam ini di pusat detensi menunjukkan upaya pemerintah Taiwan untuk tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memberikan ruang bagi ekspresi budaya dan keagamaan bagi para individu yang berada di bawah pengawasan imigrasi. Hal ini sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, termasuk hak untuk menjalankan keyakinan dan merayakan tradisi.

Melalui inisiatif ini, pihak Imigrasi Taipei tidak hanya memfasilitasi kegiatan membuat bacang, tetapi juga membangun jembatan budaya dan pemahaman antarindividu dari berbagai latar belakang. Pengalaman bersama dalam mempersiapkan makanan tradisional menjelang festival menjadi momen berharga yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan empati, bahkan di lingkungan yang penuh keterbatasan.

Diharapkan kegiatan serupa dapat terus digalakkan, tidak hanya di pusat detensi Taipei, tetapi juga di fasilitas serupa di wilayah lain. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap individu, terlepas dari status imigrasinya, merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk terhubung dengan warisan budaya mereka, serta memahami nilai-nilai keberagaman yang dianut oleh masyarakat Taiwan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All