Jakarta – Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus menjadi sorotan di tengah gejolak pasar keuangan global. Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah proaktif dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada awal Juni 2026. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya menjaga kestabilan rupiah, tetapi juga meningkatkan daya tarik pasar domestik bagi investor.
Langkah moneter BI ini disambut positif oleh pelaku pasar, yang tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang berhasil kembali menembus level di bawah Rp 18.000 per dolar AS. Hernaman Tandianto, SEVP Head of Treasury Sales and Distribution CIMB Niaga, mengapresiasi respons pasar terhadap kebijakan bank sentral. Menurutnya, ini menjadi sinyal positif bagi prospek penguatan rupiah di masa mendatang.
Namun, pergerakan rupiah tidak semata-mata dipengaruhi oleh kebijakan domestik. Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, turut memberikan sentimen terhadap mata uang garuda. Selain itu, keyakinan pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah juga menjadi pertimbangan penting bagi para investor.
Hernaman Tandianto mengidentifikasi level Rp 17.700 per dolar AS sebagai level support krusial bagi rupiah. Jika rupiah mampu menembus dan bertahan di bawah level ini, peluang untuk menguat lebih lanjut menuju Rp 17.000 per dolar AS akan semakin terbuka lebar. Ini menandakan bahwa level tersebut menjadi semacam garis pertahanan psikologis yang penting untuk dipantau.
Kenaikan suku bunga acuan BI ini merupakan bagian dari strategi BI untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya saing aset keuangan domestik. Dalam lingkungan suku bunga global yang cenderung mengalami kenaikan, kebijakan BI ini bertujuan untuk menciptakan imbal hasil yang menarik bagi investor asing, sehingga mendorong aliran modal masuk ke Indonesia. Aliran modal masuk ini secara teori akan meningkatkan permintaan terhadap rupiah, yang pada gilirannya akan mendorong penguatannya.
Situasi pasar keuangan global saat ini memang penuh ketidakpastian. Perang dagang antarnegara besar, perlambatan ekonomi global, serta lonjakan inflasi di berbagai negara menjadi tantangan tersendiri bagi setiap mata uang. Dalam konteks ini, kebijakan suku bunga yang ketat dari bank sentral seperti BI menjadi instrumen penting untuk meredam volatilitas dan memberikan kepastian bagi pasar.
Selain suku bunga, faktor lain yang memengaruhi penguatan rupiah adalah stabilitas ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi yang solid, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan tingkat utang pemerintah yang sehat menjadi fondasi penting bagi kepercayaan investor. Kebijakan fiskal yang prudent dan transparan juga sangat krusial dalam membangun keyakinan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui berbagai reformasi struktural. Deregulasi, perbaikan kemudahan berusaha, dan pengembangan infrastruktur menjadi prioritas untuk menarik investasi jangka panjang. Investasi langsung asing (FDI) yang masuk tidak hanya akan memperkuat neraca pembayaran, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Sentimen global, seperti yang disebutkan oleh Hernaman, memainkan peran yang tidak kalah penting. Ketegangan geopolitik yang meningkat dapat memicu risk-off sentiment di pasar keuangan global, di mana investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau emas. Hal ini dapat menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Oleh karena itu, upaya diplomasi dan stabilisasi hubungan internasional menjadi penting untuk meredam risiko ini.
Perkiraan pergerakan rupiah ke level Rp 17.000 per dolar AS juga bergantung pada sejumlah skenario. Jika tekanan inflasi global mereda dan bank sentral utama di dunia mulai melonggarkan kebijakan moneternya, maka sentimen terhadap aset berisiko akan membaik. Hal ini dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut. Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik semakin memanas atau inflasi tetap tinggi, maka rupiah bisa saja menghadapi tekanan kembali.
Dalam sebuah diskusi di program Power Lunch CNBC Indonesia pada Selasa, 18 Juni 2026, Hernaman Tandianto memaparkan pandangannya mengenai arah pasar keuangan Indonesia dalam menyambut kebijakan bank sentral dan ketidakpastian global. Analisisnya menyoroti bahwa kombinasi kebijakan moneter yang tepat dari BI, kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dari pemerintah, serta stabilitas di kancah global akan menjadi kunci utama bagi rupiah untuk mencapai penguatan yang signifikan.
Dengan demikian, upaya penguatan rupiah ke level Rp 17.000 per dolar AS memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Bank Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas melalui kebijakan suku bunga. Namun, faktor-faktor eksternal dan domestik lainnya, mulai dari geopolitik hingga kepercayaan investor terhadap arah kebijakan fiskal, akan turut menentukan sejauh mana rupiah dapat menembus target penguatan tersebut. Para pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan BI, data ekonomi Indonesia, serta dinamika pasar keuangan global untuk memprediksi pergerakan mata uang garuda ke depan.











