Pemerintah Kota Bogor mengambil langkah tegas. Tiga ratus angkutan kota (angkot) yang usianya lebih dari dua dekade resmi ditarik dokumen operasionalnya. Keputusan ini menandai awal baru transportasi publik di Kota Hujan.
Angkot-angkot tersebut dinilai sudah tidak layak jalan. Kondisi fisik dan teknisnya tidak lagi memenuhi standar keselamatan. Penarikan ini bertujuan meningkatkan kualitas layanan dan keamanan penumpang.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Eko Prabowo, menjelaskan proses ini. “Kami sudah melakukan sosialisasi sejak lama,” ujar Eko pada Rabu (24/7/2024). “Penarikan ini bukan mendadak, tapi bagian dari rencana revitalisasi angkutan kota.”.
Eko menambahkan, pihaknya telah menyiapkan skema penggantian. Angkot yang ditarik akan digantikan dengan armada baru yang lebih modern. Hal ini sejalan dengan program pemerintah pusat. Revitalisasi angkutan umum memang menjadi prioritas nasional.
Langkah ini diharapkan mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih nyaman. Penumpang akan merasakan perbedaan signifikan. Angkot baru diprediksi lebih ramah lingkungan dan efisien.
Angkot yang ditarik adalah yang beroperasi lebih dari 20 tahun. Usia kendaraan menjadi indikator utama kelayakan operasional. Inspeksi rutin telah dilakukan untuk memastikan standar terpenuhi.
Penarikan 300 angkot ini merupakan tahap awal. Pemerintah Kota Bogor punya target lebih ambisius. Rencana jangka panjang adalah modernisasi seluruh armada angkutan kota. Tujuannya adalah menciptakan sistem transportasi terintegrasi.
Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, sebelumnya telah menyatakan komitmennya. Ia ingin Bogor memiliki transportasi publik yang setara dengan kota-kota besar lainnya. Angkot yang modern dan teratur menjadi visi utamanya.
Masyarakat diharapkan mendukung penuh kebijakan ini. Perubahan ini membawa konsekuensi positif bagi kenyamanan dan keselamatan warga. Era baru transportasi publik di Bogor kini benar-benar dimulai. Angkot tua akan segera menjadi bagian dari sejarah.
