Kylian Mbappé, sang kapten timnas Prancis, mulai merasakan pergeseran waktu yang tak terhindarkan. Ambisi yang belum tuntas di ajang Piala Dunia kini dibayangi kesadaran akan usianya yang terus bertambah.
Pemain bintang ini baru saja mengungkapkan pemikirannya tentang masa depan karirnya. Mbappé sempat berkelakar tentang kemungkinan hijrah ke Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat. David Beckham, pemilik Inter Miami, disebut-sebut telah mencoba merayunya.
“Kita lihat saja nanti, saya tidak tahu,” ujar Mbappé kala itu. Ia menambahkan, “Budaya Amerika berbeda. Tidak ada batasan untuk ambisi, saya menyukainya.” Pernyataan tersebut dilontarkan bulan lalu, menunjukkan sisi jenaka sang pemain.
Namun, di balik candaan itu, tersirat kegelisahan yang mendalam. Mbappé akan berusia 31 tahun saat Piala Dunia berikutnya digelar. Usia tersebut bukanlah usia muda bagi seorang pesepak bola profesional.
Rentang waktu menuju Piala Dunia 2026 terasa semakin pendek baginya. Tekanan untuk meraih gelar juara dunia kembali bersama Prancis semakin terasa berat. Kegagalan di edisi sebelumnya tentu masih membekas.
Prancis, sebagai juara bertahan tahun 2018, harus menelan pil pahit di Piala Dunia 2022. Kekalahan di partai final melawan Argentina, meski melalui drama adu penalti yang menegangkan, meninggalkan luka tersendiri bagi tim dan para penggemarnya.
Mbappé, yang tampil gemilang di turnamen tersebut dengan mencetak hat-trick di final, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa performa individu, sehebat apapun, belum cukup untuk membawa pulang trofi.
Kini, dengan sisa waktu yang kian menipis, fokus Mbappé dan Prancis tertuju pada bagaimana mempersiapkan diri sebaik mungkin. Setiap kesempatan yang datang harus dimanfaatkan secara maksimal.
Pertanyaan besar pun muncul: mampukah generasi emas Prancis, dipimpin oleh Mbappé, meraih ambisi terbesarnya sebelum waktu benar-benar habis? Jawabannya akan terungkap di masa depan, namun kecemasan itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan mereka.
