Piala Dunia, sebuah perhelatan akbar yang selalu dinanti, kini terasa berbeda. Lebih dari sekadar arena adu bakat sepak bola, turnamen ini telah menjelma menjadi medan peleburan berbagai elemen identitas, nostalgia, bahkan politik.
Bagi sebagian orang, Piala Dunia menjadi penanda tonggak kehidupan. Momen-momen penting, dari masa kanak-kanak hingga kedewasaan, seringkali terbingkai dalam ingatan bersama dengan gelaran empat tahunan ini. Siapa yang bisa lupa tarian ikonik Roger Milla saat Kamerun melaju ke perempat final Piala Dunia 1990?
Atau gol menyakitkan Roberto Baggio yang mengubur asa Nigeria di tahun 1994. Bahkan momen tragis tandukan Zinedine Zidane di laga terakhirnya pada 2006, masih membekas kuat.
Namun, Piala Dunia kali ini menghadirkan nuansa yang lebih kompleks. Penonton dari diaspora kulit hitam, misalnya, menghadapi ‘matematika identitas’ yang unik.
Proses menentukan dukungan bukan lagi sekadar memilih tim favorit. Dimulai dari mendukung tim-tim Afrika, hingga beralih ke tim diaspora kulit hitam lainnya, bahkan negara adopsi.
Terkadang, pilihan bergeser karena simpati terhadap politik suatu negara. Spanyol, dengan citranya sebagai ‘pengecualian’ Eropa yang unik, kerap dianggap memiliki kedekatan politik dengan pengalaman pascakolonial.
Namun, Prancis, meski punya sejarah sebagai mantan kekuatan kolonial, kini memiliki tim mayoritas kulit hitam. Hal ini membuat Prancis lebih menarik dibandingkan Spanyol bagi sebagian penonton.
Proses penentuan dukungan ini, menurut pengamatan, melibatkan proyeksi emosi dan pandangan politik pribadi. Tidak ada aturan baku yang mengikat.
Keterlibatan politik dalam turnamen ini bukan hal baru. Namun, kali ini terasa lebih mendalam dan tak terhindarkan. Isu-isu sosial dan politik seolah ikut bermain di lapangan hijau.
Nostalgia masa lalu, kebanggaan identitas, dan pengalaman diaspora kini berbaur. Semua itu terpengaruh oleh konteks politik yang membayangi setiap pertandingan.
Piala Dunia yang dulu bisa dinikmati sebagai jeda dari hiruk pikuk politik, kini justru tenggelam di dalamnya. Perhelatan ini menjadi cerminan dunia yang semakin terhubung, namun juga semakin kompleks secara politik.
Bagaimana kita memilih tim untuk didukung, atau bahkan sekadar mengagumi, kini tak lepas dari pemahaman kita tentang isu-isu global. Piala Dunia, sekali lagi, membuktikan dirinya lebih dari sekadar olahraga.
