Tuesday, 14 July 2026
BREAKING
BANSOS

Mengapa Potongan Liar Dana Bansos oleh Oknum Perangkat Desa Terus Terjadi?

Oleh Rini Widiyarti July 14, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Kasus pemotongan dana bantuan sosial (bansos) oleh oknum perangkat desa kembali menghiasi pemberitaan, menimbulkan keprihatinan mendalam bagi masyarakat penerima manfaat. Fenomena ini seolah menjadi siklus yang sulit diputus, meninggalkan pertanyaan besar: mengapa praktik tercela ini terus saja terjadi?

Akar Masalah yang Kompleks

Ada beberapa faktor kompleks yang berkontribusi pada terus terjadinya pemotongan liar dana bansos oleh oknum perangkat desa. Pertama, lemahnya sistem pengawasan dan akuntabilitas menjadi celah utama. Keterbatasan sumber daya manusia maupun teknologi dalam memantau penyaluran dana hingga ke tangan penerima yang sah, membuka ruang bagi oknum untuk bertindak.

Kedua, mentalitas oknum yang koruptif menjadi faktor internal yang tak kalah penting. Kesenjangan antara pendapatan perangkat desa dengan kebutuhan hidup, ditambah dengan peluang yang ada, dapat memicu godaan untuk menyalahgunakan wewenang. Adanya anggapan bahwa dana bansos adalah ‘dana tak bertuan’ atau ‘jatah’ bagi mereka yang berada di garda terdepan penyaluran, semakin memperparah.

Ketiga, kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum di kalangan masyarakat penerima manfaat. Sebagian penerima bansos mungkin tidak sepenuhnya mengerti hak-hak mereka atau bagaimana prosedur penyaluran yang benar. Hal ini membuat mereka lebih rentan untuk menerima pemotongan tanpa protes, bahkan terkadang merasa terintimidasi untuk melakukannya.

Modus Operandi yang Beragam

Modus operandi oknum perangkat desa dalam memotong dana bansos pun beragam. Ada yang terang-terangan memotong langsung dari jumlah bantuan yang seharusnya diterima. Ada pula yang menggunakan dalih ‘biaya administrasi’, ‘uang rokok’, atau ‘uang transportasi’ yang tidak sesuai dengan ketentuan. Bahkan, ada kasus di mana oknum meminta sebagian dana dikembalikan setelah bantuan diserahkan, dengan berbagai alasan yang mengada-ada.

Dalam beberapa kasus, oknum juga memanfaatkan ketidakpahaman penerima mengenai besaran bantuan yang sebenarnya, sehingga mereka bisa memanipulasi jumlah yang diserahkan. Adanya rasa sungkan atau takut dari penerima untuk mempertanyakan langsung kepada perangkat desa juga menjadi ‘senjata’ bagi oknum.

Dampak yang Merugikan

Dampak dari pemotongan liar dana bansos ini sangat merugikan. Bagi masyarakat penerima manfaat, hal ini berarti pengurangan hak mereka untuk mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan. Bantuan yang seharusnya dapat meringankan beban ekonomi keluarga, justru berkurang karena ulah segelintir oknum. Hal ini dapat memperburuk kondisi kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Selain itu, praktik ini juga merusak kepercayaan publik terhadap program bansos pemerintah. Ketika masyarakat melihat dana yang seharusnya membantu mereka justru dikorupsi, rasa apatisme dan ketidakpercayaan terhadap program pemerintah bisa tumbuh. Ini tentu kontraproduktif dengan tujuan pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat.

Langkah Penegakan dan Pencegahan

Untuk mengatasi fenomena ini, diperlukan langkah penegakan hukum yang tegas terhadap oknum yang terbukti melakukan pemotongan liar. Hukuman yang memberikan efek jera sangat penting agar tidak ada lagi yang berani meniru.

Di sisi lain, pencegahan juga menjadi kunci. Pemerintah perlu memperkuat sistem pengawasan dan audit penyaluran dana bansos. Pemanfaatan teknologi seperti sistem informasi terpadu dan pelaporan digital dapat membantu meminimalkan celah praktik korupsi. Selain itu, sosialisasi dan edukasi yang masif kepada masyarakat penerima manfaat mengenai hak-hak mereka, besaran bantuan, serta saluran pelaporan jika terjadi dugaan penyimpangan juga mutlak dilakukan.

Perlu juga ada peningkatan kesejahteraan bagi para perangkat desa, agar mereka tidak terjerumus pada praktik korupsi karena desakan ekonomi. Namun, hal ini harus dibarengi dengan peningkatan integritas dan akuntabilitas. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan aparat penegak hukum adalah kunci untuk memutus siklus pemotongan liar dana bansos ini demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait