Aktris ternama Dian Sastrowardoyo kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, ia mencuri perhatian saat menghadiri perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Kehadirannya di situs bersejarah yang menjadi pusat ibadah umat Buddha ini memicu beragam reaksi dan diskusi hangat di kalangan warganet mengenai makna toleransi.
Pada Senin, 1 Juni 2026, Dian membagikan momen khidmat perayaan tersebut melalui akun Threads pribadinya. Ia tidak sendiri, melainkan ditemani sahabat dan rekan sejawatnya di dunia hiburan, menikmati suasana sakral di salah satu candi termegah di Indonesia.
Bersama Sissy Priscillia dan Adinia Wirasti, lawan mainnya dalam film legendaris, Dian tampil anggun mengenakan busana serba putih. Ketiganya tampak larut dalam berbagai tradisi Waisak. Mulai dari menuliskan harapan pada kertas, hingga pelepasan ribuan lampion yang menghiasi langit malam Borobudur, menjadi simbol kedamaian bersama.
Momen paling menyentuh datang saat Dian mengunggah foto lampion dengan pesan khusus untuk mendiang ayahnya. Ia mengungkapkan kerinduan mendalam pada sosok yang telah tiada. Pesan singkat itu berisi ucapan selamat Waisak untuk sang ayah, doa kebahagiaan bagi seluruh makhluk, serta penghormatan atas keyakinan yang dianut orang tuanya.
Unggahan tersebut menunjukkan sisi emosional Dian yang ingin mengenang ayahnya melalui tradisi yang berarti baginya. Ini sekaligus menjadi bukti bakti seorang anak, meski kini terpisah dimensi dan keyakinan yang berbeda. Tindakan ini menuai pujian atas kedewasaan dan rasa hormatnya.
Kehadiran Dian, yang dikenal sebagai seorang Muslim, di perayaan Waisak sempat menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang. Namun, banyak pula warganet yang memberikan pemahaman. Mereka mengingatkan bahwa ayah kandung Dian Sastrowardoyo adalah seorang penganut agama Buddha yang taat.
Fakta penting terkait momen ini adalah lokasi acara di Candi Borobudur, Magelang. Dian hadir bersama rekan artis Sissy Priscillia dan Adinia Wirasti. Tujuan utamanya adalah menghormati mendiang ayah dan merayakan toleransi. Dian Sastro beragama Islam, sementara ayahnya memeluk agama Buddha.
Data ini menegaskan bahwa tindakan Dian didasari oleh kedekatan emosional dan sejarah keluarga yang kaya akan keberagaman. Ia menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan keyakinan tidak menghalangi kasih sayang dan penghormatan kepada orang tua. Momen di Borobudur tersebut menjadi bukti kuat menjunjung tinggi nilai keberagaman di Indonesia.
