Los Angeles – Klakson perpisahan bergema di California. Generasi emas Belgia, yang lama dinanti kehebatannya, tampaknya telah mencapai titik akhirnya. Kekalahan pahit di perempat final melawan Spanyol di SoFi Stadium menjadi penanda, sebuah simfoni melankolis bagi tim yang pernah dijuluki Setan Merah.
Momen krusial itu terasa begitu nyata. Thibaut Courtois, sang penjaga gawang andalan, harus mengakhiri laga lebih dini akibat cedera. Penggantinya, Senne Lammens, tak mampu berbuat banyak. Kesalahan fatalnya berujung pada gol kemenangan bagi Spanyol, yang dicetak oleh Mikel Merino.
“Saya memeluknya erat. Dia kiper hebat. Dari sini, dia hanya bisa menjadi lebih kuat,” ujar Courtois penuh empati kepada rekan setimnya yang apes. Ia menambahkan, “Saya yakin dia akan baik-baik saja. Dia punya liburan, lalu kembali berlatih di Manchester dan menjalani musim yang hebat.”
Namun, perpisahan ini terasa lebih mendalam. Sejak kekalahan di Piala Dunia 2018, sebuah titik terang yang sempat dinikmati dengan performa puncak Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, dan Courtois sendiri, bayang-bayang redup mulai terasa. Pemain-pemain seperti Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Vincent Kompany, Marouane Fellaini, Eden Hazard, Yannick Carrasco, Dries Mertens, dan Mousa Dembélé, pilar utama generasi emas itu, kini satu per satu mulai menepi.
Belgia semakin terpuruk dengan hilangnya kapten mereka, Youri Tielemans, yang mengalami cedera saat pemanasan. Situasi ini menambah beban berat bagi tim untuk melakukan regenerasi. Laporan yang beredar bahkan menyebutkan Courtois mungkin akan mengambil jeda dari kancah internasional selama setahun, sebelum kembali untuk kualifikasi Euro 2028.
Sementara itu, Spanyol melaju ke semifinal, siap menghadapi Prancis. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, menyatakan keyakinannya, “Mereka akan sama khawatirnya dengan kita.” Sebuah pernyataan yang mungkin sedikit terdistorsi oleh terjemahan, namun menyiratkan kepercayaan diri yang tinggi.
Kekalahan ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan. Ini adalah penanda akhir sebuah era. Generasi yang menjanjikan begitu banyak, yang pernah menduduki peringkat pertama FIFA, kini harus menghadapi kenyataan. Pertanyaan pun muncul, akankah ada generasi penerus yang mampu mengembalikan kejayaan Belgia?
Kisah generasi emas Belgia ini mungkin akan dikenang seperti ukiran di monumen bersejarah. Wajah-wajah para bintangnya, meski memudar oleh waktu, akan tetap menjadi saksi bisu sebuah perjalanan yang penuh harapan, namun berakhir dengan nada melankolis di bawah terik matahari California.
