Saturday, 11 July 2026
BREAKING
SEPAKBOLA

Sponsor Jumbo Piala Dunia, Jejak Aramco dan Tuduhan “Sportswashing” Mencoreng Citra Sepak Bola

Oleh Herfansyah July 11, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Piala Dunia 2022 di Qatar tak hanya menyita perhatian di lapangan hijau. Di balik gemerlap turnamen akbar itu, sebuah isu kontroversial mengemuka terkait sponsor utama, yakni Aramco.

Perusahaan minyak raksasa milik negara Arab Saudi ini hadir sebagai “mitra energi” resmi FIFA. Kehadiran Aramco memicu perdebatan sengit dan tudingan adanya praktik “sportswashing”.

Apa sebenarnya sportswashing? Istilah ini merujuk pada upaya sebuah negara atau entitas menggunakan acara olahraga besar untuk memperbaiki citra publiknya. Terutama ketika citra tersebut tercoreng oleh isu-isu negatif.

Aramco sendiri dikenal sebagai salah satu pencemar korporat terbesar di dunia. Arab Saudi pun kerap dituding menjadi penghambat utama negosiasi perubahan iklim internasional selama puluhan tahun.

Kemitraan antara industri bahan bakar fosil dan dunia sepak bola bukanlah hal baru. Hubungan ini memiliki sejarah panjang yang dapat dibagi menjadi tiga periode.

Periode pertama terjadi saat sepak bola berkembang di Inggris. Olahraga ini awalnya digunakan untuk mendisiplinkan para pekerja. Kemudian, sepak bola menjadi alat budaya penting bagi Kekaisaran Inggris dan kapitalisme.

Sebuah catatan sejarah menarik adalah Factory Act 1850. Dalam undang-undang ini, para pekerja berhasil meraih hak untuk libur pada Sabtu sore mulai pukul 14.00.

Hal ini kemudian memengaruhi jadwal pertandingan sepak bola. Hingga kini, kick-off tradisional sepak bola seringkali dimulai pada pukul 15.00.

Perkembangan industri dan kapitalisme turut membentuk lanskap sponsorship sepak bola. Banyak klub dan liga kini bergantung pada dana dari perusahaan-perusahaan besar.

Termasuk di dalamnya adalah perusahaan dari sektor energi yang memiliki jejak karbon signifikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan etis mengenai integritas olahraga.

Para penggemar sepak bola di seluruh dunia menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka melihat sponsorship seperti Aramco sebagai upaya menutupi dampak lingkungan negatif.

FIFA sendiri belum memberikan tanggapan resmi mendalam terkait tudingan sportswashing ini. Namun, kontroversi ini terus bergulir seiring berjalannya Piala Dunia.

Pertanyaan besar kini mengemuka: sejauh mana industri bahan bakar fosil akan terus mewarnai dunia olahraga global? Dan bagaimana dampaknya terhadap upaya pelestarian lingkungan?

Debat ini diharapkan dapat mendorong FIFA dan para pemangku kepentingan lainnya untuk lebih transparan dan bertanggung jawab dalam memilih mitra sponsorship di masa depan. Integritas olahraga dan isu lingkungan harus menjadi pertimbangan utama.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait