Aktor senior Anjasmara tak main-main dalam meluncurkan lini parfum terbarunya, Harmel. Perjalanan panjang mewujudkan wewangian impian ini memakan waktu hingga satu setengah tahun, dipicu oleh pengalaman pribadi yang kurang menyenangkan di masa lalu.
Suami Dian Nitami ini mengungkapkan bahwa ketidakpercayaannya pada sebuah parfum yang pernah dicobanya di pusat perbelanjaan menjadi titik awal bisnis ini. Aroma yang terlalu menyengat membuatnya merasa tak nyaman hingga harus segera mencari toilet untuk menghilangkannya.
Insiden tersebut menjadi pelajaran berharga. Anjasmara menetapkan standar tinggi untuk parfum Harmel: aroma yang kuat namun tetap lembut dan tidak mengganggu orang lain. Ia sangat menghindari wangi yang berlebihan.
Baginya, parfum ideal adalah yang memberikan kesan kokoh atau sebuah ‘statement’ tanpa menyakiti indra penciuman. Sifat perfeksionis Anjasmara membuat proses riset dan pengembangan produk ini tidak bisa instan.
Selama proses pengembangan, Anjasmara dan timnya menghadapi berbagai kendala. Ketidaksesuaian aroma pada hasil awal produksi menjadi salah satu tantangan utama.
Daya tahan wangi yang awalnya dinilai kurang lama juga memerlukan perbaikan formula berkali-kali. Rasa putus asa sempat menghampiri tim karena target yang sangat tinggi untuk hasil yang sempurna.
Setiap detail produk harus melalui tahapan evaluasi yang sangat ketat sebelum akhirnya siap dipasarkan. Anjasmara mengakui bahwa parfum adalah produk yang paling banyak mengalami kegagalan uji coba.
Ia rela mengganti formula berkali-kali demi mendapatkan racikan yang benar-benar mewakili identitas brand Harmel. Demi menjaga kualitas dan reputasi, Anjasmara melakukan uji coba pribadi selama enam bulan terakhir.
Ia bertindak sebagai ‘kelinci percobaan’ untuk memastikan parfum tersebut nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, akan sangat memalukan jika meluncurkan produk yang belum teruji secara personal oleh pemiliknya.
Perjalanan pengembangan parfum Harmel ini memakan waktu total 1,5 tahun, dengan masa uji coba pribadi selama 6 bulan. Fokus utamanya adalah keseimbangan antara aroma yang lembut namun berkarakter.
Parfum Harmel menjadi produk paling sulit dalam portofolio Anjasmara, dengan tingkat ‘trial and error’ tertinggi. Ia meyakini parfum dan deodoran adalah dua barang wajib yang penentuan aromanya tidak boleh sembarangan.
Kini, Anjasmara merasa puas dengan hasil akhir produk yang telah melewati berbagai tahap kurasi ketat. Ia berharap pengguna parfum Harmel dapat merasakan tingkat kenyamanan dan kepercayaan diri yang sama seperti yang ia rasakan.
