Sebuah temuan penting dalam penanganan Polymyalgia Rheumatica (PMR) baru-baru ini diterbitkan dalam New England Journal of Medicine. Studi ini menunjukkan bahwa obat secukinumab memiliki keunggulan signifikan dibandingkan plasebo.
Secukinumab terbukti lebih efektif dalam mencapai dan mempertahankan remisi jangka panjang. Khususnya pada pasien PMR yang mengalami kekambuhan penyakit.
Remisi yang dimaksud adalah kondisi di mana gejala penyakit mereda secara signifikan. Studi ini mengamati durasi remisi hingga 52 minggu atau satu tahun.
Polymyalgia Rheumatica (PMR) merupakan penyakit inflamasi yang umum terjadi. Gejalanya ditandai dengan rasa nyeri dan kaku pada area bahu dan pinggul.
Hal ini diungkapkan oleh Dr. John H. Stone, MD, dari divisi reumatologi, inflamasi, dan imunologi di Massachusetts General Hospital. Bersama timnya, Dr. Stone memaparkan temuan ini.
Saat ini, terapi lini pertama untuk PMR adalah penggunaan glukokortikoid. Obat ini termasuk golongan kortikosteroid yang efektif meredakan peradangan.
Namun, penggunaan glukokortikoid sering kali disertai dengan masalah. Kekambuhan penyakit dan efek samping terkait obat menjadi tantangan utama.
Efek toksik dari penggunaan glukokortikoid jangka panjang dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan lainnya.
Oleh karena itu, pencarian alternatif pengobatan yang lebih aman dan efektif terus dilakukan oleh para peneliti.
Dalam penelitian ini, pasien PMR yang telah mengalami kekambuhan penyakit dilibatkan. Mereka dibagi menjadi dua kelompok utama.
Satu kelompok menerima terapi secukinumab, sementara kelompok lainnya menerima plasebo sebagai pembanding.
Hasilnya sangat menggembirakan. Kelompok yang menerima secukinumab menunjukkan tingkat remisi yang lebih tinggi.
Lebih penting lagi, remisi yang dicapai cenderung lebih stabil dan bertahan lama.
Ini berarti pasien yang menggunakan secukinumab lebih mungkin untuk bebas dari gejala PMR selama periode pengamatan.
Temuan ini membuka harapan baru bagi pasien PMR. Terutama bagi mereka yang sering mengalami kekambuhan.
Penggunaan secukinumab berpotensi mengurangi ketergantungan pada glukokortikoid. Sekaligus meminimalkan risiko efek samping yang merugikan.
Para ahli berharap penelitian lebih lanjut dapat mengkonfirmasi efektivitas dan keamanan secukinumab.
Sehingga obat ini dapat segera menjadi pilihan terapi standar untuk PMR di masa mendatang.
Penelitian ini memberikan gambaran optimis tentang kemajuan dalam bidang reumatologi.
Pengembangan terapi inovatif seperti secukinumab sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Terutama bagi penderita penyakit inflamasi kronis seperti Polymyalgia Rheumatica.











