Jatinegara, Jakarta Timur, yang pernah menjadi magnet para pencinta batu akik, kini diselimuti kesuraman. Surga batu akik yang dulu ramai pengunjung, kini banyak pedagangnya terpaksa merelakan lapak mereka. Fenomena ini menandakan masa keemasan batu akik seolah telah berlalu.
Kini, deretan kios yang berjajar rapi di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, mayoritas terlihat sepi. Kilau batu akik yang dulu memukau, kini tak lagi mampu menarik minat pembeli seperti dulu.
Banyak pedagang batu akik di pusat perbelanjaan ini memilih untuk gulung tikar. Mereka tak mampu lagi bertahan menghadapi lesunya omzet penjualan. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama.
Salah satu pedagang, Budi Santoso, menceritakan nasibnya. “Dulu, sehari bisa dapat puluhan transaksi. Sekarang, seminggu belum tentu ada yang beli,” keluhnya.
Ia menjelaskan, masa kejayaan batu akik terjadi sekitar tahun 2014-2015. Saat itu, permintaan sangat tinggi. Hampir semua kalangan berlomba mengoleksi batu akik.
Namun, tren tersebut perlahan memudar. Minat masyarakat terhadap batu akik kini menurun drastis. Berbagai faktor disebut menjadi penyebabnya.
Munculnya tren baru yang lebih kekinian disebut sebagai salah satu alasan utama. Generasi muda kini lebih tertarik pada gadget dan fashion terbaru. Hobi batu akik dianggap kurang relevan.
Budi menambahkan, sulitnya mencari bahan baku berkualitas juga menjadi kendala. Harga batu akik berkualitas pun menjadi semakin mahal.
Mahalnya harga membuat calon pembeli berpikir ulang. Mereka beralih ke pilihan lain yang lebih terjangkau.
Kini, para pedagang yang masih bertahan hanya bisa berharap tren batu akik kembali bangkit. Mereka berharap ada inovasi atau cara baru untuk menarik kembali minat pembeli.
Beberapa pedagang mencoba berinovasi dengan menawarkan jenis batu akik unik atau desain cincin yang lebih modern. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan.
Kawasan Jatinegara yang dulu riuh dengan aktivitas jual beli batu akik, kini lebih banyak diwarnai kesunyian. Nasib para pedagang batu akik di surga ini masih menggantung.
Pemerintah daerah setempat juga belum memberikan solusi konkret. Para pedagang hanya bisa pasrah menunggu nasib.
Harapan mereka tertuju pada kembalinya euforia batu akik. Namun, dengan tren yang terus berubah, hal itu tampaknya menjadi impian yang sulit terwujud.
Nasib surga batu akik Jatinegara kini menjadi cerminan tren hobi yang fluktuatif. Masa keemasan telah berlalu, menyisakan cerita pahit bagi para pedagang.











