Jakarta, CNBC Indonesia – PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) mencatatkan debut yang memukau di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 7 Juli 2026. Menjadi emiten ketiga yang resmi melantai tahun ini, saham JECX langsung tancap gas dengan kenaikan tajam mencapai Auto Reject Atas (ARA) di hari pertama perdagangannya.
Dalam penawaran umum perdana saham (IPO) kali ini, JECX melepas sebanyak 487.983.500 lembar saham. Angka ini merepresentasikan 15% dari total modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Harga penawaran yang ditetapkan adalah Rp1.250 per saham. Dari jumlah tersebut, 325.322.300 lembar merupakan saham baru, setara 10% modal pasca-IPO. Sisanya, 162.661.200 lembar, berasal dari divestasi saham milik Waldensius Girsang, mencakup 5% modal pasca-IPO.
Melalui aksi korporasi ini, JECX berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp609,9 miliar. Dana ini terbagi atas Rp406,6 miliar dari penerbitan saham baru dan Rp203,32 miliar dari penjualan saham divestasi. Dengan harga penawaran tersebut, kapitalisasi pasar JECX saat pencatatan perdana menyentuh angka Rp4,07 triliun.
Pada pembukaan perdagangan perdana, saham JECX dibuka pada level Rp1.560 per lembar. Kenaikan ini menunjukkan lonjakan sebesar 24,5%, yang secara otomatis mengaktifkan mekanisme Auto Reject Atas (ARA).
Presiden Direktur PT Nitrasanata Dharma Tbk, Johan A. M. M. Hutauruk, menyatakan rasa syukurnya atas antusiasme investor. Tingkat permintaan atau oversubscribed mencapai 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat. Lebih dari 555.699 investor turut berpartisipasi dalam IPO ini.
"Kami bersyukur proses IPO PT Nitrasanata Dharma Tbk dapat berjalan lancar hingga Perseroan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia," ujar Johan di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Dana hasil IPO ini rencananya akan dialokasikan untuk pelunasan sebagian pokok pinjaman. Sekitar Rp275 miliar akan digunakan untuk membayar utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank HSBC Indonesia. Sisa dana akan disetorkan sebagai modal PT Nitra Sanata Bali. Sebagian lagi akan menambah modal kerja operasional rutin perusahaan.
JEC, sebagai pemain utama dalam industri kesehatan mata, mengoperasikan 5 rumah sakit spesialis mata dan 11 klinik. Jaringan operasionalnya tersebar luas di wilayah Jawa, Bali, dan Sulawesi.
Dari sisi kinerja keuangan, JEC mencatat peningkatan pendapatan secara bertahap. Laba tahun berjalan pada 2025 tercatat sebesar Rp72,49 miliar. Namun, beban operasional dan keuangan yang meningkat memberikan tekanan pada laba bersih dibandingkan pencapaian tahun 2023.











