Eks Pegawai Microsoft Bongkar Dugaan Keterlibatan Perusahaan dalam Genosida di Palestina

Yohanes

Jakarta – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari seorang mantan teknisi Microsoft asal Italia yang memilih mengundurkan diri. Karyawan yang menggunakan nama samaran Nour ini menuding Microsoft terlibat dalam memfasilitasi aksi genosida terhadap warga Palestina.

Pengakuan tersebut disampaikan melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada ribuan karyawan Microsoft lainnya. Nour memutuskan untuk berhenti setelah bekerja selama dua tahun sebagai Teknisi Lingkungan Kritis di pusat data Microsoft Italia.

Dalam emailnya, Nour menyebut Microsoft memperluas pusat data di Eropa untuk dijadikan pusat pemantauan massal. Ia menuduh perusahaan tersebut menjadikan Palestina sebagai laboratorium eksperimen untuk persenjataan digital.

Nour mengklaim selama 994 hari, infrastruktur Microsoft telah membantu tindakan yang ia sebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Pusat data di Eropa disebut menjadi sumber utama dari keterlibatan Microsoft dalam konflik tersebut.

Ia merujuk pada laporan 6 Agustus 2025 yang mengungkap penyimpanan 11.500 TB data telepon warga Palestina. Data tersebut tersimpan di pusat data Belanda, dengan tambahan 200 juta jam rekaman audio di pusat data Irlandia.

Menurut Nour, itu merupakan koleksi data pengintaian terbesar di dunia terhadap satu kelompok populasi. Data tersebut diduga kuat dimanfaatkan militer Israel untuk mengidentifikasi target serangan udara, penahanan, hingga ancaman.

Lebih jauh, data tersebut diklaim digunakan untuk melatih kecerdasan buatan atau AI. Program ini bertujuan membenarkan pembunuhan non-kombatan, termasuk menargetkan warga sipil dan memusnahkan seluruh keluarga dalam sekali serangan.

Nour juga menyoroti investigasi internal Microsoft yang dianggapnya hanya upaya cuci tangan. Ia menuding Microsoft berkolusi dengan rezim di Tel Aviv untuk memindahkan data dari server Belanda agar jejaknya tidak terlacak.

Selain itu, terdapat aplikasi khusus yang ditanamkan pada ponsel warga Palestina sebagai bagian dari praktik apartheid. Hal ini menyebabkan privasi seluruh warga Palestina terlanggar karena terus-menerus dalam pengawasan.

Nour pun mengkritik keras sistem AI Microsoft yang mengonsumsi banyak energi dan air, namun justru digunakan untuk mesin perang. Ia menyebut sikap perusahaan sangat munafik dan bertentangan dengan slogan pemberdayaan yang selama ini diusung.

Sebelumnya, kampanye No Azure for Apartheid atau NOAA pernah sukses menekan Microsoft menghentikan kontrak dengan Unit 8200 milik intelijen Israel. Nour berharap langkah serupa bisa kembali dilakukan oleh para pegawai lainnya.

Ia menutup pesannya dengan ajakan tegas bagi rekan-rekannya untuk bergabung dalam gerakan No Azure for Apartheid. Surat tersebut diakhiri dengan seruan lantang untuk membebaskan Palestina.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All