Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis setelah mencuatnya sinyal positif terkait pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar. Sentimen pasar berubah drastis setelah muncul kabar adanya kemajuan dalam upaya diplomatik kedua negara tersebut.
Minyak mentah Brent terpantau turun ke level US$70,60 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami koreksi ke posisi US$67,55 per barel. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya premi risiko perang yang sebelumnya sempat menyelimuti pasar akibat konflik di Timur Tengah.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman September tercatat anjlok 1,4 persen. Kondisi ini menempatkan acuan minyak global tersebut di jalur pelemahan selama tiga sesi berturut-turut. Bahkan, Brent berpotensi mencatatkan kerugian mingguan keempat secara beruntun, sebuah tren yang jarang terjadi dalam dua tahun terakhir.
Nasib serupa dialami WTI yang terkoreksi 1,5 persen untuk kontrak pengiriman Agustus. Fenomena ini menegaskan bahwa pelaku pasar mulai mengalihkan fokus dari kekhawatiran gangguan pasokan fisik menuju kalkulasi ulang risiko geopolitik. Pasar kini menjadi sangat sensitif terhadap setiap kabar dari kawasan Teluk Persia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengungkapkan bahwa mediator dari Qatar dan Pakistan telah menyelesaikan pertemuan terpisah dengan negosiator AS dan Iran pada Rabu. Pertemuan tersebut diklaim membuahkan kemajuan positif terkait isu memorandum of understanding.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan respons optimistis kepada media terkait perkembangan tersebut. Ia menyebut pertemuan yang berlangsung di Doha berjalan dengan sangat baik dan meminta pasar untuk memantau kelanjutannya.
Proses negosiasi yang dimulai sejak Selasa itu melibatkan tokoh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner melalui perantara Qatar. Meski kedua pihak masih menjaga jarak fisik, pembukaan pintu komunikasi ini dinilai krusial dalam meredam eskalasi militer.
Analis dari ING menilai optimisme pasar mulai tumbuh karena meyakini pasokan minyak dari Teluk Persia tetap terjaga. Sebagai indikator, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan. Meskipun sempat rendah, jumlah kapal tanker yang melintas perlahan meningkat sebagai tanda kepercayaan pemilik armada kembali pulih.
Selat Hormuz memegang peranan vital sebagai jalur distribusi utama minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini akan berdampak langsung pada biaya energi global dan inflasi di negara-negara importir.
Saat ini, pelaku pasar masih menanti babak selanjutnya dari diplomasi di Doha. Jika negosiasi terus menunjukkan progres, tekanan terhadap harga minyak kemungkinan besar akan berlanjut. Namun, kegagalan dalam perundingan berikutnya dapat memicu lonjakan premi risiko dalam waktu singkat.











