Evakuasi Lambat Pasca Gempa Venezuela, Warga Mulai Berontak dan Kecewa pada Pemerintah

Heni Maulidya

Tragedi kemanusiaan tengah melanda Venezuela menyusul dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara tersebut pada 24 Juni lalu. Sepekan setelah bencana dengan kekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 itu terjadi, situasi di lapangan semakin memprihatinkan dengan jumlah korban tewas kini menembus angka 2.000 jiwa.

Selain korban meninggal, dampak kerusakan infrastruktur yang masif menyebabkan puluhan ribu warga harus kehilangan tempat tinggal. Data terbaru mencatat sebanyak 15.866 orang kini mengungsi di berbagai posko darurat, sementara 10.571 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Namun, di tengah upaya evakuasi yang terus berjalan, gelombang kemarahan mulai muncul dari masyarakat terdampak. Banyak penyintas merasa frustrasi dengan lambatnya respons pemerintah dalam menangani bencana. Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa warga terpaksa berjuang sendiri menggunakan peralatan seadanya untuk mencari kerabat mereka yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Salah satu yang merasakan kepedihan mendalam adalah Miguel Oscar Nunez. Ia masih berusaha mencari anak tunggalnya, Angel, yang tertimbun reruntuhan apartemen 12 lantai di kota pesisir La Guaira. Dengan raut wajah penuh amarah, Miguel mengaku sangat membutuhkan bantuan tambahan pemerintah sebelum waktu kritis penyelamatan habis.

Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Kevin Montilla, pria berusia 34 tahun yang kehilangan kontak dengan istri dan putrinya saat gempa terjadi. Menurut Kevin, operasi penyelamatan dimulai sangat lambat dan tidak efisien. Ia menyebut pihak kepolisian yang hadir di lokasi hanya berperan sebagai pemantau tanpa memberikan bantuan berarti dalam evakuasi.

Situasi di La Guaira semakin menyedihkan karena minimnya akses terhadap kebutuhan dasar. Badan pengungsi PBB, UNHCR, melaporkan bahwa pasokan makanan sangat terbatas, layanan dasar lumpuh, dan jaringan komunikasi terputus di wilayah yang paling parah terdampak tersebut. Sejumlah warga, seperti Daniela Armas, menggambarkan kondisi di lokasi pengungsian sangat kacau hingga memicu perselisihan antarwarga demi mendapatkan bantuan makanan.

Di sisi lain, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez dalam pernyataannya di televisi nasional menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah berupaya semaksimal mungkin melakukan operasi penyelamatan yang intensif untuk menolong korban yang masih terjebak.

Meski jendela waktu kritis 72 jam untuk bertahan hidup telah terlewati, tim penyelamat di lapangan masih terus bekerja keras. Ancaman baru kini membayangi para pengungsi, yakni potensi wabah penyakit akibat kondisi hunian sementara yang tidak layak dan keterpaksaan warga tidur di jalanan. Hingga kini, puluhan ribu orang masih belum diketahui nasibnya, menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All