Jakarta, CNN Indonesia — Sokonindo Automobile selaku agen pemegang merek DFSK di Indonesia mengungkapkan alasan strategis di balik langkah perusahaan yang lebih memilih memprioritaskan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) melalui model terbaru mereka, E5 Plus. Keputusan ini diambil sebagai respons atas kondisi infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik yang hingga saat ini belum tersebar merata di seluruh wilayah Tanah Air.
Director of Sales Center Sokonindo Automobile, Cin Hok Rifin, menyatakan bahwa teknologi PHEV saat ini menjadi solusi paling relevan bagi konsumen otomotif di Indonesia. Menurutnya, sistem elektrifikasi yang mengombinasikan daya listrik eksternal dengan mesin pembakaran dalam atau Internal Combustion Engine (ICE) memberikan fleksibilitas lebih tinggi dibandingkan mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Cin Hok menekankan bahwa pihaknya ingin memberikan kebebasan kepada konsumen untuk mengatur kebiasaan berkendara mereka tanpa perlu terbebani oleh keterbatasan infrastruktur. Ia mencontohkan kondisi krusial yang sering dialami pengguna EV, seperti saat pulang kerja di malam hari namun kapasitas baterai kendaraan sudah berada di level rendah.
Dalam skenario tersebut, pengguna EV murni terpaksa harus mencari Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan mengantre di tengah kelelahan. Padahal, waktu tersebut seharusnya bisa digunakan untuk berkumpul bersama keluarga di rumah. Dengan hadirnya teknologi PHEV, kekhawatiran semacam itu dapat dieliminasi karena mobil tetap bisa beroperasi menggunakan mesin bensin saat daya baterai habis.
Untuk membuktikan keunggulan tersebut, Cin Hok menyebutkan bahwa DFSK E5 Plus dirancang untuk menempuh perjalanan jarak jauh dengan tenang. Mobil ini diklaim mampu melintasi rute Jakarta hingga Lombok yang berjarak sekitar 1.400 kilometer tanpa kendala berarti.
Dari sisi spesifikasi teknis, E5 Plus dibekali baterai berkapasitas 25 kWh yang memungkinkan penggunaan layaknya mobil listrik murni untuk kebutuhan mobilitas harian. Kendaraan ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 140 kilometer hanya dengan tenaga baterai. Selain itu, efisiensi bahan bakar yang dihasilkan teknologi PHEV ini diklaim jauh lebih unggul dibandingkan mesin hybrid konvensional, yakni mencapai 83 kilometer per liter.
Meski saat ini fokus perusahaan tertuju pada pengembangan dan pemasaran teknologi PHEV, DFSK menegaskan komitmennya untuk tetap menggarap segmen kendaraan listrik murni di masa depan. Cin Hok bahkan memberikan sinyal positif bahwa DFSK membuka peluang lebar untuk meluncurkan model-model kendaraan listrik terbaru lainnya di pasar Indonesia guna melengkapi portofolio mereka. Strategi ini diharapkan mampu menjembatani masa transisi elektrifikasi bagi konsumen yang menginginkan efisiensi sekaligus kenyamanan tanpa batasan infrastruktur.
