Polisi Viral dan Kerinduan Masyarakat pada Sosok Pengayom yang Humanis

Wibowo

Di era digital yang serba terbuka, media sosial telah menjadi panggung bagi siapa saja untuk menunjukkan eksistensi. Namun, bagi sebagian anggota kepolisian, platform ini bukan sekadar alat untuk membagikan konten populer, melainkan ruang untuk menjembatani jarak antara aparat dan masyarakat. Fenomena polisi yang viral berkat aksi kemanusiaan kini menjadi cermin dari kerinduan publik terhadap sosok polisi yang humanis, mendengar, dan hadir sebagai solusi di tengah kesulitan warga.

Salah satu sosok yang mencuri perhatian publik adalah Inspektur Dua (Ipda) Purnomo. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Unit Pembinaan Polisi Masyarakat (Kanit Binpolmas) Polres Lamongan, Jawa Timur, tersebut telah lama dikenal sebagai konten kreator dengan jutaan pengikut. Berdasarkan data terbaru, akun Instagram @purnomopolisibaik memiliki sekitar 855.000 pengikut, sementara kanal YouTube @PURNOMOBELAJARBAIK telah mengumpulkan 2,69 juta pelanggan.

Perjalanan Purnomo di dunia maya tidak dimulai dengan instan. Sejak 10 tahun lalu, saat masih berpangkat brigadir kepala, ia konsisten mengunggah kegiatan rutinnya sebagai Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran, Lamongan. Awalnya, konten yang disajikan sangat sederhana, mulai dari menyoroti infrastruktur jalan yang rusak hingga aksi nyata membantu memperbaiki rumah warga yang tidak layak huni. Seiring berjalannya waktu, kualitas produksi videonya meningkat pesat sejalan dengan cakupan aksi sosialnya yang semakin luas.

Purnomo menceritakan bahwa jargon "Polisi Belajar Baik" yang melekat pada dirinya lahir dari sebuah momen mengharukan. Suatu malam, ia bertemu dengan seorang pemuda tanpa busana yang diduga mengalami gangguan jiwa. Tanpa ragu, Purnomo memberikan kaus yang ia kenakan dan meminta bantuan anaknya untuk membawakan celana. Setelah pria tersebut berpakaian, ia berterima kasih dengan menyebut Purnomo sebagai "Pak Polisi baik". Kalimat sederhana itulah yang kemudian menjadi motivasi baginya untuk terus berbuat kebajikan.

Saat dihubungi pada Minggu (28/6/2026), Purnomo menegaskan bahwa media sosial baginya adalah sarana untuk mengajak lebih banyak orang melakukan hal positif. Ia merasa tidak sepatutnya hanya menjadi penonton saat melihat orang lain yang membutuhkan bantuan di linimasa media sosial. Kini, dedikasinya telah berkembang hingga mendirikan Yayasan Berkah Bersinar Abadi, yang mengelola pusat rehabilitasi bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), korban perundungan, pecandu narkoba, serta lansia telantar.

Kepedulian serupa juga ditunjukkan oleh Brigadir Agus Kurniawan, anggota Bhabinkamtibmas Polsek Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah. Dikenal lewat akun @kopi_curhat_pakbhabin, Agus berhasil merangkul anak muda melalui pendekatan yang santai. Dengan membawa termos berisi kopi dan camilan di ranselnya, ia kerap menyambangi tempat nongkrong remaja untuk memberikan edukasi tanpa kesan menggurui. Baginya, banyak masalah sosial, terutama kenakalan remaja, berakar dari kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak.

Agus menceritakan bahwa inisiatifnya sering kali bermula dari permintaan orang tua yang merasa kewalahan menghadapi perilaku anaknya. Dengan gaya yang merangkul, Agus hadir sebagai pendengar yang baik bagi warga. Strategi komunikasinya yang unik ini membuat masyarakat merasa nyaman, bahkan tidak sedikit warga dari luar daerah datang langsung ke rumahnya untuk berbagi keluh kesah. Keberhasilan Agus dalam membangun komunikasi persuasif membuktikan bahwa polisi tidak selalu harus tampil kaku dalam menjalankan tugasnya.

Kedua sosok polisi ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan humanis memiliki dampak yang sangat besar terhadap persepsi publik. Baik Purnomo maupun Agus sepakat bahwa masyarakat saat ini sangat mendambakan kehadiran polisi yang lebih komunikatif, mampu melayani, dan mau mengayomi. Mereka menilai bahwa membentak atau mendoktrin bukanlah solusi efektif dalam menangani permasalahan masyarakat. Sebaliknya, penyelesaian masalah secara kekeluargaan jauh lebih dihargai oleh warga.

Menanggapi fenomena tersebut, anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Mohammad Choirul Anam menilai bahwa semangat Bhabinkamtibmas yang ditunjukkan Purnomo dan Agus seharusnya menjadi standar bagi seluruh anggota Polri. Menurut Anam, fungsi utama kepolisian yang harus dikedepankan adalah mendengar. Budaya mendengar ini sangat krusial dalam membentuk karakter polisi yang berorientasi pada masyarakat atau civilian police.

Anam menekankan bahwa kehadiran Bhabinkamtibmas yang proaktif dapat membantu meringankan beban masyarakat secara signifikan. Ia bahkan menyebut peran mereka sering kali dianggap sebagai sosok yang harus hadir dalam setiap persoalan, layaknya "manusia setengah dewa" di tengah komunitasnya. Kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada sosok-sosok seperti Purnomo dan Agus merupakan apresiasi atas kemauan mereka untuk hadir tanpa sekat.

Lebih jauh, Anam menyoroti bahwa apresiasi positif ini tidak terbatas pada Bhabinkamtibmas saja. Seluruh satuan kerja di kepolisian, termasuk satuan lalu lintas dan satuan reserse, memiliki potensi yang sama untuk dicintai masyarakat. Kuncinya terletak pada transparansi dan pelayanan yang tidak pandang bulu. Masyarakat akan memberikan apresiasi jika polisi mau terbuka mengenai perkembangan penanganan hukum tanpa harus diminta oleh pihak pelapor.

Diskriminasi dalam penegakan hukum menjadi catatan penting yang harus dibenahi. Masyarakat sering kali merasa kecewa jika proses hukum berlangsung lambat saat menghadapi pihak yang berkuasa, namun cepat saat berhadapan dengan rakyat kecil. Oleh karena itu, prinsip keadilan yang tidak diskriminatif menjadi syarat mutlak bagi kepolisian untuk mendapatkan kembali kepercayaan penuh dari publik.

Di momentum HUT ke-80 Bhayangkara, kisah-kisah inspiratif dari Purnomo dan Agus menjadi pengingat bagi institusi Polri mengenai pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam bertugas. Keberhasilan mereka di media sosial bukan sekadar tentang jumlah pengikut, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai kebaikan yang dibagikan dapat menggerakkan hati banyak orang. Dengan terus memperbaiki diri dan mengedepankan tradisi mendengar, kepolisian diharapkan dapat terus menjadi institusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All