Perum Bulog tengah membidik peluang pasar internasional yang semakin terbuka lebar bagi komoditas beras asal Indonesia. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) telah menyampaikan ketertarikan serius untuk menjalin kerja sama impor beras dari Indonesia dengan volume mencapai 50 ribu ton setiap bulannya. Jika kesepakatan ini terealisasi secara penuh, maka potensi ekspor ke negara tersebut dapat menyentuh angka 600 ribu ton per tahun.
Rizal menjelaskan bahwa tawaran dari pihak UEA ini merupakan salah satu langkah strategis yang sedang dijajaki perusahaan di tengah tren positif produksi serta penyerapan beras nasional. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers yang berlangsung di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta, Jakarta Utara, Senin (29/6). Bagi Bulog, permintaan ini menjadi indikator positif bahwa kualitas beras Indonesia mulai mendapatkan pengakuan di pasar global yang semakin kompetitif.
Optimisme Bulog dalam menjajaki pasar ekspor tidak lepas dari capaian impresif dalam serapan gabah nasional sepanjang tahun ini. Hingga akhir Juni, Bulog tercatat telah berhasil menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras. Angka tersebut setara dengan 80 persen dari total target pengadaan yang ditetapkan sebesar 4 juta ton untuk tahun ini. Mengingat masih tersisa waktu enam bulan hingga pergantian tahun, Rizal memprediksi total serapan dapat melampaui target awal, yakni mencapai angka 4,5 juta hingga 5 juta ton.
Peningkatan volume serapan ini menuntut manajemen Bulog untuk mengelola stok dengan lebih dinamis. Selain untuk memenuhi kebutuhan cadangan pangan di dalam negeri yang menjadi prioritas utama, Bulog kini semakin fokus pada strategi perluasan pasar ke luar negeri. Langkah ini dianggap krusial agar penyerapan hasil panen petani tetap optimal, sehingga harga di tingkat produsen tetap terjaga dengan baik tanpa mengabaikan ketahanan pangan domestik.
Selain Uni Emirat Arab, Bulog juga tengah mematangkan rencana kerja sama ekspor dengan Malaysia. Dalam waktu dekat, jajaran direksi Bulog berencana melakukan pertemuan dengan otoritas terkait di Negeri Jiran untuk merundingkan kesepakatan harga serta volume ekspor yang ditargetkan mencapai 500 ribu ton. Pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan kerja sama perdagangan pangan antarnegara serumpun yang selama ini memang memiliki hubungan erat.
Tidak hanya fokus pada dua negara tersebut, Bulog juga sedang memetakan potensi pasar di kawasan lain, termasuk Singapura, Timor Leste, hingga Papua Nugini. Khusus untuk pasar Singapura, Bulog telah melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan stok beras premium sebanyak 200 ribu ton. Beras tersebut memiliki spesifikasi khusus dengan tingkat pecahan atau broken sebesar 5 persen, sesuai dengan standar yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pasar internasional.
Persiapan stok tersebut juga ditujukan untuk merespons rencana pengiriman awal sebanyak 10 ribu ton beras yang sebelumnya telah diusulkan oleh pemerintah Indonesia kepada Singapura. Rizal memastikan bahwa kesiapan logistik Bulog sudah berada pada level yang baik, sehingga jika sewaktu-waktu ada permintaan mendadak, pihaknya siap melakukan pengiriman dengan cepat. Kesiapan infrastruktur dan stok cadangan ini menjadi modal utama Bulog dalam menjaga kredibilitas sebagai eksportir pangan yang andal.
Posisi Indonesia di kancah pangan dunia kini semakin diperhitungkan. Data dari FAO Food Outlook edisi Mei dan Juni 2026 menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari empat produsen beras terbesar di dunia, tepat berada di bawah India, China, dan Bangladesh. Pencapaian ini tergolong signifikan karena Indonesia berhasil mencatat tren peningkatan produksi beras di saat sejumlah negara produsen lainnya justru mengalami perlambatan akibat kendala iklim maupun teknis pertanian.
Pemerintah sendiri telah menetapkan target produksi yang cukup ambisius untuk tahun-tahun mendatang. Setelah mencatatkan realisasi produksi sebesar 34,69 juta ton pada 2025, pemerintah menargetkan produksi beras nasional mampu mencapai 34,77 juta ton pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan akan terus menanjak hingga menyentuh 34,83 juta ton pada 2027. Konsistensi dalam peningkatan produksi ini menjadi fondasi utama bagi Bulog dalam mengekspansi jangkauan pasarnya ke mancanegara.
Saat ini, total stok beras yang dikuasai oleh Bulog telah mencapai sekitar 5,169 juta ton. Angka stok yang melimpah ini memberikan ruang gerak bagi pemerintah untuk lebih leluasa dalam melakukan penetrasi pasar global. Langkah ekspor ini bukan sekadar upaya komersial, melainkan bentuk penguatan posisi tawar Indonesia dalam diplomasi pangan internasional, sekaligus menjadi jaminan bagi para petani lokal bahwa hasil panen mereka akan terserap dengan baik.
Dengan kombinasi antara peningkatan produktivitas di sisi hulu dan agresivitas dalam mencari peluang pasar di sisi hilir, Bulog optimistis dapat menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan nasional dan potensi devisa negara. Sinergi antara pemerintah pusat, Bulog, dan mitra dagang internasional akan terus diperkuat untuk memastikan bahwa beras Indonesia tidak hanya menjadi penopang kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi pemain penting dalam rantai pasok pangan dunia di masa depan.











