Manchester City akhirnya secara resmi memperkenalkan Enzo Maresca sebagai pelatih kepala baru mereka, Senin malam, 29 Juni 2026. Penunjukan ini menandai era baru di Etihad Stadium setelah kepergian sosok legendaris Pep Guardiola. Namun, alih-alih disambut euforia semata, peresmian Maresca justru diwarnai sebuah drama tak terduga yang berujung pada permintaan maaf terbuka dari Man City dan sang pelatih kepada mantan klub Maresca, Chelsea.
Kabar mengenai Maresca yang akan menggantikan Guardiola telah berembus kencang dalam beberapa waktu terakhir. Pelatih berkebangsaan Italia tersebut memang berstatus tanpa klub setelah sebelumnya berpisah dengan Chelsea pada awal tahun 2026. Banyak pihak menduga perpisahan dengan The Blues terjadi karena adanya ketidakharmonisan hubungan antara Maresca dengan jajaran petinggi klub asal London Barat tersebut. Namun, setelah resmi mengenakan atribut biru langit Manchester, fakta mengejutkan di balik kepergiannya dari Stamford Bridge mulai terkuak.
Chelsea, melalui pernyataan resmi yang dirilis pasca-pengumuman Maresca, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas cara sang pelatih meninggalkan klub. Menurut The Blues, Maresca disinyalir telah menjalin kontak secara diam-diam dengan pihak lain, yang kini diketahui adalah Manchester City, sebelum secara resmi mundur dari jabatannya di London. Keputusan tersebut diambil Maresca kendati dirinya masih terikat kontrak dengan Chelsea.
"Pada musim gugur tahun lalu, kami telah diberitahu oleh mantan Pelatih Kepala kami [Maresca] bahwa mungkin ada peluang baginya untuk menggantikan Pep Guardiola di akhir musim," demikian bunyi sebagian pernyataan Chelsea yang dirilis untuk menjelaskan situasi tersebut. Pernyataan ini secara jelas mengindikasikan bahwa Maresca telah mengetahui potensi kepindahannya ke Manchester City jauh sebelum ia benar-benar berpisah dengan Chelsea. Proses komunikasi awal ini, yang menurut Chelsea dilakukan secara tertutup, menjadi pemicu utama keretakan hubungan.
Puncak dari drama ini terjadi pada Desember 2025, ketika Maresca secara tiba-tiba dan tak terduga mengajukan pengunduran diri dari posisinya sebagai pelatih kepala Chelsea. "Pada bulan Desember 2025, pelatih kepala kami mengundurkan diri dari jabatannya secara tiba-tiba dan tak terduga. Tentu saja, kami merasa sangat kecewa dengan cara kepergiannya," lanjut pernyataan klub London Biru tersebut. Pengunduran diri mendadak ini, ditambah dengan informasi adanya kontak rahasia, membuat Chelsea merasa dikhianati dan mengganggu stabilitas tim secara signifikan.
Dampak dari pengunduran diri Maresca yang dianggap tidak profesional itu terasa begitu besar bagi Chelsea. Klub tersebut mengklaim bahwa insiden ini telah mengganggu persiapan dan laju tim mereka sepanjang musim 2025-2026. Stabilitas internal yang goyah akibat pergantian pelatih di tengah jalan dan drama di baliknya disebut-sebut menjadi salah satu faktor utama yang berujung pada buruknya performa dan perjalanan tim pada musim tersebut. Situasi ini tentu saja sangat merugikan Chelsea, baik dari segi teknis di lapangan maupun citra klub di mata publik dan penggemar.
Merespons tudingan dan kekecewaan Chelsea yang begitu kentara, Manchester City dan Enzo Maresca tidak tinggal diam. Keduanya kompak menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada Chelsea. Langkah ini bisa diinterpretasikan sebagai upaya untuk meredakan ketegangan, mengakui kesalahan dalam proses transfer, sekaligus membersihkan nama Maresca di awal kepemimpinannya di Etihad. Permintaan maaf bersama ini menunjukkan bahwa baik klub maupun individu mengakui adanya pelanggaran etika atau setidaknya menimbulkan ketidaknyamanan yang signifikan bagi Chelsea.
Bagi Maresca, ini adalah awal yang tidak biasa dalam kariernya sebagai pelatih kepala di salah satu klub raksasa Eropa. Menggantikan sosok sekaliber Pep Guardiola saja sudah menjadi tantangan besar, apalagi harus diawali dengan kontroversi transfer dan permintaan maaf. Latar belakang Maresca sebagai mantan asisten Guardiola di Man City sebelum melatih Chelsea membuat kepindahannya kembali ke Etihad memiliki narasi yang menarik, namun drama ini menambahkan kerumitan yang tak terduga.
Man City sendiri, dengan turut serta dalam permintaan maaf, menunjukkan kesadaran akan potensi dampak negatif dari perekrutan Maresca terhadap hubungan antar klub, khususnya di Liga Inggris yang sangat kompetitif. Ini juga bisa menjadi langkah proaktif untuk menghindari sanksi atau perselisihan hukum lebih lanjut yang mungkin timbul dari dugaan pelanggaran kontrak atau ‘tapping-up’ (pendekatan ilegal terhadap staf klub lain yang masih terikat kontrak).
Permintaan maaf ini secara tidak langsung menegaskan bahwa ada benarnya klaim Chelsea mengenai pendekatan yang kurang etis dalam proses transfer. Meski detail mengenai bagaimana kesepakatan permintaan maaf ini dicapai tidak dijelaskan, ini setidaknya menjadi penutup sementara dari sebuah drama transfer yang cukup menguras emosi dan mengganggu perjalanan sebuah klub besar. Kini, dengan permintaan maaf telah disampaikan, Enzo Maresca memiliki tugas berat untuk membuktikan dirinya di Manchester City, sambil berharap kontroversi ini tidak terus membayangi langkah awalnya bersama The Citizens.











