Jakarta – Penerjemah pelatih tim nasional Indonesia, Jeong Seok-seo, kembali menjadi sorotan tajam. Sosok yang akrab disapa Jeje ini kini tengah menghadapi gelombang kritik pedas dari suporter Persija Jakarta, menyusul drama transfer yang melibatkan pemain sayap Mariano Peralta. Insiden komunikasi publik ini mencuat di tengah antusiasme menyambut Shin Tae-yong sebagai pelatih baru Macan Kemayoran, menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi di dunia sepak bola yang penuh sensitivitas.
Puncak kekecewaan suporter Persija bermula dari sebuah pernyataan yang dilontarkan Jeje dalam konferensi pers pertama Shin Tae-yong bersama klub. Kala itu, pertanyaan media mengarah pada rumor kesepakatan dengan Mariano Peralta, mantan bintang Borneo FC yang performanya menarik perhatian banyak klub. Menanggapi pertanyaan tersebut, Jeje menerjemahkan jawaban Shin Tae-yong dalam bahasa Korea menjadi sebuah pernyataan yang terkesan mengonfirmasi.
"Untuk Peralta memang sudah dikontrak," tutur Jeje dalam bahasa Indonesia terbatas, melanjutkan, "Coach Shin dengar dan merasa senang, jadi ingin sambut Peralta." Pernyataan ini sontak mengejutkan publik, mengingat dalam dunia sepak bola, mengumumkan kesepakatan transfer sebelum resmi diikat dan diumumkan klub merupakan sebuah tabu. Informasi semacam itu biasanya dijaga ketat hingga semua detail disepakati dan diresmikan oleh manajemen klub.
Sayangnya, "pengumuman" prematur ini berujung pahit. Tak lama berselang, Mariano Peralta dikabarkan memutuskan untuk mencabut kesepakatan verbalnya dengan Persija Jakarta. Pemain yang disebut-sebut sebagai pemain terbaik Super League 2025-2026 itu justru memilih untuk mengeksplorasi opsi klub lain, dengan tujuan utama bermain di AFC Champions League. Ironisnya, salah satu klub yang akan tampil di kompetisi kasta tertinggi Asia tersebut adalah Persib Bandung, rival abadi Persija.
Keputusan Peralta yang berbalik arah ini memicu amarah di kalangan suporter Persija. Akun pribadi Jeje di Instagram, @jeongseokseo, pun langsung menjadi sasaran "gerudukan" komentar negatif. Berbagai ungkapan kekecewaan dan cemoohan membanjiri kolom komentar, mencerminkan kekesalan para penggemar yang merasa dikerjai dan dipermalukan. Salah satu komentar yang mewakili sentimen tersebut berbunyi, "Aduh Je jadi kena buli ini kita sama sebelah," dari akun fanatisme_persija, merujuk pada rivalitas dengan Persib.
Insiden ini bukan kali pertama Jeje tersandung masalah komunikasi publik. Penerjemah asal Korea Selatan ini memang memiliki rekam jejak beberapa kali bersinggungan dengan elite sepak bola Indonesia. Sebelumnya, ia pernah disemprot oleh pelatih Bojan Hodak karena mengkritik pemain Eliano Reijnders. Penyerang tim nasional, Ramadhan Sananta, juga pernah secara langsung merespons kritik yang dilontarkan Jeje terhadap dirinya. Pola komunikasi yang cenderung blak-blakan atau kurang mempertimbangkan konteks sensitivitas sepak bola ini tampaknya menjadi pekerjaan rumah bagi Jeje.
Kedatangan Shin Tae-yong ke Persija Jakarta sendiri merupakan sebuah langkah besar. Pelatih yang sukses membawa Timnas Indonesia ke berbagai pencapaian ini ditunjuk untuk menukangi Macan Kemayoran menjelang musim 2026-2027. Manajemen Persija bahkan memberikan target tinggi kepada Shin, yaitu meraih gelar juara dan memutus dominasi Persib di kancah sepak bola nasional. Dengan target ambisius dan sorotan publik yang begitu besar, setiap detail komunikasi, terutama yang berkaitan dengan kebijakan transfer dan strategi tim, menjadi sangat krusial.
Sebagai "gatekeeper" atau penjaga gerbang informasi dari seorang pelatih sekaliber Shin Tae-yong, peran Jeje dalam mengelola komunikasi publik memiliki bobot yang signifikan. Kesalahan dalam menerjemahkan atau menyampaikan informasi bisa berdampak luas, tidak hanya pada citra individu, tetapi juga pada reputasi klub dan hubungan dengan para suporter. Apalagi, Persija Jakarta adalah salah satu klub terbesar di Indonesia dengan basis penggemar yang militan dan sangat vokal.
Kegagalan transfer Mariano Peralta dan gelombang kritik yang menimpa Jeong Seok-seo menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam ekosistem sepak bola profesional. Memahami nuansa dan etika komunikasi publik di tengah tekanan dan ekspektasi tinggi adalah kunci. Bagi Jeje, momen ini menjadi pengingat penting untuk memperbaiki pola komunikasi dan lebih berhati-hati dalam setiap pernyataan yang dilontarkan, demi menjaga profesionalisme dan menghindari kontroversi yang tidak perlu di masa mendatang, terutama di klub sebesar Persija Jakarta.











