Angkatan Laut Inggris atau Royal Navy akan memasuki era baru pertahanan maritim tanpa kapal perusak (destroyer) pada tahun 2040 mendatang. Keputusan strategis ini diambil di tengah derasnya arus modernisasi persenjataan global dan pergeseran fokus pada peperangan berbasis teknologi nirawak atau drone. Alih-alih mengganti destroyer tua dengan model serupa, Kementerian Pertahanan Inggris telah memutuskan untuk mengakuisisi setidaknya enam unit "Kapal Tempur Umum" atau Common Combat Vessels (CCV) yang mengusung konsep hibrida.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam strategi pertahanan laut Inggris, yang sebelumnya selalu mengandalkan kekuatan kapal perusak sebagai tulang punggung armada. Keenam kapal perusak Tipe 45 milik Angkatan Laut Kerajaan, yang selama ini menjadi garda depan, dijadwalkan akan dipensiunkan secara bertahap dan sepenuhnya pada akhir tahun 2038. Rencana awal memang mengarah pada penggantian dengan kelas Tipe 83 generasi berikutnya, namun kini arah kebijakan telah bergeser drastis.
Berdasarkan Rencana Investasi Pertahanan Inggris terbaru, fokus kini beralih pada Common Combat Vessels (CCV) hibrida. Konsep kapal hibrida ini dirancang untuk mengintegrasikan kemampuan berawak dan nirawak, mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih luas menuju peperangan drone serta peningkatan kapabilitas di garis depan. Ini adalah respons adaptif terhadap ancaman maritim modern yang semakin kompleks dan beragam.
Menteri Pertahanan Dan Jarvis, dalam pernyataan resminya yang dikutip Reuters, menegaskan bahwa Common Combat Vessels ini akan menjadi tulang punggung baru bagi para pelaut Inggris yang berdedikasi. Kapal-kapal ini didesain dan dibangun secara khusus untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang dan semakin meningkat. Desainnya memungkinkan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi dibandingkan kapal perusak konvensional.
Jarvis juga menekankan bahwa pengembangan CCV dilakukan bersama para inovator Inggris, dan seluruh proses pembangunannya akan dilaksanakan di dalam negeri. Keputusan ini tidak hanya bertujuan memperkuat militer, tetapi juga memberikan dampak positif pada perekonomian dengan mendukung penciptaan lapangan kerja di berbagai wilayah di Inggris. Ia optimistis bahwa CCV akan membekali Angkatan Laut Kerajaan dengan kemampuan yang sesuai untuk peperangan modern di masa mendatang.
Salah satu fitur kunci dari Common Combat Vessels adalah kemampuannya untuk mengkoordinasikan berbagai sistem nirawak. Kapal hibrida ini akan menjadi pusat komando yang mampu mengoperasikan drone di udara, di permukaan laut, maupun di bawah laut secara simultan. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran situasional, jangkauan operasional, serta efektivitas serangan dan pertahanan tanpa menempatkan personel dalam risiko tinggi.
Pengiriman Common Combat Vessels pertama diperkirakan akan dimulai pada awal tahun 2030-an. Setelah beroperasi penuh, kapal-kapal ini akan bekerja secara sinergis dengan fregat dan kapal otonom lainnya yang telah direncanakan sebelumnya dalam struktur armada Royal Navy. Ini membentuk visi armada masa depan yang lebih ramping, fleksibel, dan didukung teknologi canggih, jauh berbeda dari komposisi armada tradisional.
Perubahan drastis dalam strategi pertahanan ini bukan tanpa gejolak politik. Awal bulan ini, mantan Menteri Pertahanan John Healey mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri tersebut dipicu oleh perselisihan sengit mengenai Rencana Investasi Pertahanan, sebuah dokumen krusial yang mengatur alokasi dana untuk peralatan dan layanan militer. Healey secara terbuka menyatakan bahwa pemerintah gagal mengalokasikan sumber daya yang memadai untuk menjaga keamanan Inggris, menunjukkan adanya perdebatan internal yang mendalam tentang prioritas belanja pertahanan.
Setelah Dan Jarvis menjabat sebagai Menteri Pertahanan, ia segera berupaya memfokuskan kembali Rencana Investasi Pertahanan. Prioritas jangka pendek yang diusungnya mencakup pengadaan kapal berkecepatan tinggi baru untuk pasukan komando serta pengembangan drone serang canggih. Hal ini mengindikasikan pergeseran penekanan dari platform tempur konvensional yang besar menuju unit yang lebih lincah, adaptif, dan berteknologi tinggi, sejalan dengan tren peperangan modern.
Keputusan Angkatan Laut Inggris untuk tidak lagi memiliki kapal perusak pada 2040 dan beralih ke Common Combat Vessels hibrida mencerminkan upaya adaptasi terhadap lanskap keamanan global yang terus berubah. Dengan fokus pada integrasi sistem nirawak dan kemampuan multi-peran, Inggris berambisi untuk membangun kekuatan maritim yang lebih relevan dan efektif dalam menghadapi tantangan di masa depan, meskipun harus melepaskan citra klasik armada destroyer yang telah lama melekat.
