Friday, 10 July 2026
BREAKING
DUNIA

Iran Siapkan Rangkaian Pemakaman Sang Pemimpin Tertinggi: Jadwal, Lokasi, dan Pengamanan Ketat

Oleh Heni Maulidya June 29, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

Pemerintah Iran tengah merampungkan persiapan detail untuk upacara pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sejumlah prosesi penghormatan dan pemakaman rencananya akan digelar di tiga kota besar di Iran, menandai momen penting bagi negara tersebut pasca-kematian sang pemimpin yang telah lama menjabat. Kesiapan ini juga mencakup langkah-langkah pengamanan ekstra untuk mengantisipasi membludaknya pelayat.

Menurut laporan kantor berita Mehr yang mengutip beberapa pejabat anonim, upacara penghormatan jenazah dijadwalkan dimulai pada 4 Juli di dua kota krusial: ibu kota Tehran dan kota suci Qom. Kedua kota ini memiliki signifikansi religius dan politik yang tinggi di Iran, sehingga menjadi lokasi awal yang strategis untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat luas memberikan penghormatan terakhir.

Sementara itu, prosesi pemakaman utama akan dilaksanakan pada 9 Juli di kota Mashhad, yang terletak di timur laut Iran. Mashhad merupakan kota kelahiran Ayatollah Ali Khamenei dan juga merupakan salah satu kota suci Syiah yang penting, menjadikan lokasi ini pilihan utama untuk upacara pemakaman definitif. Pemilihan kota-kota ini mencerminkan apresiasi terhadap peran dan pengaruh Khamenei di berbagai lapisan masyarakat Iran.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada usia 86 tahun terjadi setelah insiden serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut dilaporkan menghantam kediaman resminya di Tehran pada gelombang pertama serangan yang terjadi pada 28 Februari lalu. Peristiwa ini tentu saja menimbulkan duka mendalam dan kekosongan kepemimpinan di Iran, yang kini harus merencanakan transisi dan prosesi kenegaraan yang kompleks.

Penjadwalan pemakaman yang memakan waktu beberapa bulan setelah kematiannya bukanlah tanpa alasan. Pelaksanaan upacara pemakaman Khamenei sejatinya telah direncanakan tidak lama setelah ia meninggal dunia. Namun, berbagai pertimbangan keamanan dan politik menyebabkan pelaksanaannya berulang kali ditunda. Situasi geopolitik yang penuh ketegangan, termasuk potensi konflik yang sempat membayangi antara Iran dengan AS dan Israel, menjadi faktor utama yang menghambat prosesi ini.

Baru setelah tercapainya semacam perjanjian damai sementara, pemerintah Iran merasa kondusif untuk mulai merencanakan dan melaksanakan rangkaian acara pemakaman tersebut. Penundaan ini juga didasari oleh antisipasi kehadiran seluruh jajaran elite politik Iran, baik dari dalam maupun luar negeri. Mengingat pentingnya figur Khamenei, kehadiran para pemimpin negara dan tokoh penting lainnya memerlukan persiapan pengamanan yang sangat matang dan komprehensif untuk memastikan kelancaran dan keamanan seluruh rangkaian acara.

Pemerintah Iran memprediksi akan ada lonjakan jumlah pelayat yang luar biasa, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari berbagai negara lain yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah bekerja sama erat dengan kepolisian nasional dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian acara, mulai dari upacara penghormatan hingga prosesi pemakaman, dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar tanpa gangguan berarti. Pengamanan ekstra ketat akan diberlakukan di seluruh area penyelenggaraan acara.

Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei diperkirakan akan menjadi salah satu acara berkabung terbesar dalam sejarah Iran modern. Jutaan warga diprediksi akan memadati kota-kota yang menjadi lokasi acara untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin yang telah memegang posisi tertinggi di Republik Islam Iran selama beberapa dekade. Pengaruh dan warisan Khamenei bagi Iran tidak dapat dipandang sebelah mata, menjadikannya figur yang sangat dihormati sekaligus menjadi simbol perlawanan bagi sebagian pihak.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Minggu (28/6) mengonfirmasi adanya koordinasi dengan pemerintah Irak terkait penyelenggaraan upacara pemakaman Ali Khamenei. Ia menyebutkan pembentukan mekanisme khusus untuk memfasilitasi penyelenggaraan upacara yang rencananya juga akan melibatkan tempat-tempat suci Syiah di Irak. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, saat kunjungan Araghchi ke Baghdad.

Meskipun Araghchi tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai format spesifik upacara tersebut, ia menekankan bahwa pembicaraan dengan Irak berjalan baik. Ia juga memberikan pembaruan mengenai perkembangan negosiasi dengan Amerika Serikat dan isu Selat Hormuz. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran terus menjaga hubungan diplomatik yang erat dengan negara-negara tetangga, bahkan di tengah situasi berkabung dan transisi kepemimpinan yang krusial.

Khamenei sendiri telah menjadi Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selama masa jabatannya, ia telah memimpin Iran melalui berbagai tantangan domestik dan internasional, serta membentuk kebijakan luar negeri negara tersebut. Kematiannya menandai akhir dari era kepemimpinan yang panjang dan akan membuka babak baru bagi Iran dalam menentukan arah politik dan masa depannya. Persiapan pemakaman ini menjadi langkah awal yang penting dalam proses transisi kepemimpinan di negara tersebut.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait