Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan di awal sesi kedua perdagangan hari ini, Senin (29/6/2026). Indeks acuan bursa saham nasional ini tercatat ambles 1% lebih, dipicu oleh aksi jual yang marak terutama pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar.
Pada pukul 14.13 WIB, IHSG terpantau merosot 66,77 poin atau 1,13% ke level 5.829,36. Perdagangan hari ini diwarnai oleh dominasi saham merah, dengan 444 emiten mengalami penurunan, berbanding dengan 218 saham yang menguat dan 297 lainnya stagnan. Total nilai transaksi yang terhimpun mencapai Rp 4,87 triliun, melibatkan pergerakan 8,24 miliar saham melalui 812.300 kali transaksi.
Menjelang penutupan sesi pertama, IHSG sebenarnya sudah menunjukkan indikasi pelemahan mendekati 1%. Namun, tren penurunan ini semakin dalam di sesi kedua. Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi tadi, IHSG sempat mencatatkan kenaikan positif sebesar 0,79% dan bahkan menyentuh level tertingginya di 5.942,77.
Tekanan jual yang cukup kuat terlihat menghantam sejumlah saham unggulan, khususnya dari sektor perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang mencatat nilai transaksi tertinggi hingga jeda siang, harus rela terkoreksi 2,43%. Demikian pula dengan dua bank raksasa lainnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yang masing-masing melemah 1% dan 1,05%.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, saham BBCA menjadi kontributor pelemahan terbesar bagi IHSG pada siang hari ini, memberikan beban sebesar -14,05 poin. Bobot BBCA ini terpaut cukup jauh dengan emiten pemberat kedua, yaitu PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), yang membebani indeks sebesar -6,41 poin.
Selain BBCA dan SMMA, beberapa emiten lain yang juga turut menjadi pemberat pergerakan IHSG antara lain BBRI, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), BMRI, hingga PT BRPT Tbk (BRPT).
Pelemahan pasar saham ini terjadi di tengah berbagai upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sebelumnya, pada pagi hari yang sama, telah berlangsung pertemuan penting di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco; Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi; Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung; Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti; Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta; serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah dan DPR RI sepakat untuk memprioritaskan kebijakan jangka pendek yang berfokus pada pengendalian inflasi dan penjagaan daya beli masyarakat. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan ekonomi global yang masih membayangi.
Mari Elka Pangestu menekankan krusialnya fokus pada pengendalian inflasi dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketidakpastian tersebut berpotensi memicu kenaikan harga barang, terutama yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, seperti yang terlihat dari dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga minyak.
"Karena kita sudah lihat dari ketidakpastian global seperti harga minyak yang pengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat," jelasnya.
Lebih lanjut, pemerintah juga berkomitmen untuk mengembalikan dana sebesar Rp 281 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dana tambahan sebesar Rp 100 triliun juga telah disiagakan sebagai bantalan likuiditas jika perbankan sewaktu-waktu membutuhkan dukungan.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, dalam konferensi pers di Gedung DPR/MPR, Jakarta, pada Senin (29/6/2026), menyatakan, "Setelah dievaluasi bahwa dana pemerintah di perbankan akan dikembalikan lagi yang Rp 281 triliun dan diperpanjang hingga akhir 2026." Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas sektor keuangan domestik di tengah gejolak ekonomi global.
Kondisi pasar yang fluktuatif ini menyoroti pentingnya pemantauan ketat terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik. Investor akan terus mencermati bagaimana langkah-langkah kebijakan pemerintah dan bank sentral dalam menavigasi tantangan ekonomi saat ini, serta bagaimana dampaknya terhadap kinerja pasar modal di masa mendatang.











