Ruben Onsu Kembali ke Tanah Suci untuk Keempat Kali: Mengungkap Kerinduan Mendalam dan Doa di Tengah Ujian Hidup

Wibowo

Presenter kenamaan, Ruben Onsu, kembali menjejakkan kaki di Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah umrah yang keempat kalinya. Perjalanan spiritual ini dilakukannya bersama sahabat dekatnya, desainer Ivan Gunawan, menandai momen penting dalam pencarian ketenangan batin dan penyerahan diri kepada Sang Pencipta. Bagi Ruben, setiap kesempatan beribadah di Baitullah selalu menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam, terutama di tengah dinamika perjalanan hidup yang sedang ia hadapi.

Keberangkatan Ruben Onsu menuju Tanah Suci ini terekam saat ia berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Senin, 22 Juni 2026. Dengan raut wajah yang memancarkan ketenangan, Ruben menyampaikan harapannya untuk ibadah kali ini. Meski suasana di Masjidil Haram dan sekitarnya diprediksi akan ramai oleh jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia, Ruben menyatakan rasa syukurnya yang mendalam karena diberi kesempatan kembali menginjakkan kaki di tempat suci tersebut. Baginya, hiruk pikuk jemaah justru menambah kekhusyukan dan nuansa kebersamaan dalam beribadah.

Dalam rangkaian ibadah umrahnya kali ini, Ruben Onsu berencana untuk lebih banyak berserah diri dan memanjatkan doa atas segala perjalanan hidup yang tengah ia alami. Ia meyakini bahwa setiap takdir dan cobaan yang datang merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang terbaik untuknya. Ketenangan yang ia cari di Tanah Suci diharapkan dapat memberikan kekuatan dan petunjuk di masa depan, menjadikannya pribadi yang lebih ikhlas dan tabah.

"Kalau dikasih ya senang, alhamdulillah, saya bilang terima kasih. Saya cuma menyerahkan semuanya yang saya lewati lewat doa. Kita nggak pernah tahu setelah ini ke depannya bagaimana. Kalau Allah sudah mengatur semuanya, pasti itu jalan yang terbaik," ujar Ruben Onsu dengan penuh keyakinan, sesaat sebelum keberangkatannya. Pernyataan ini mencerminkan sikap pasrah dan tawakal yang menjadi inti dari perjalanan spiritualnya, di mana ia menempatkan segala harapannya hanya kepada Tuhan.

Sebagai seorang ayah, Ruben Onsu juga memastikan bahwa anak-anaknya selalu menjadi prioritas utama dalam setiap untaian doa yang ia panjatkan. Baik saat berada di hadapan Ka’bah maupun dalam kesehariannya, nama buah hatinya tak pernah absen dari lisannya. Ia berharap agar setiap doa yang terucap menjadi kebaikan dan perlindungan bagi anak-anaknya, mengiringi setiap langkah mereka di masa depan.

"Semua orang tua saya yakin pasti selalu menyebut nama anak-anaknya dalam doa, bukan hanya ketika di sana. Saya juga sedang banyak belajar. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan dalam doa menjadi hal-hal yang baik untuk anak-anak saya," lanjut Ruben, menegaskan betapa besar kasih sayang dan harapan seorang ayah terhadap masa depan anak-anaknya. Doa orang tua, khususnya yang dipanjatkan di Tanah Suci, diyakini memiliki kekuatan dan keberkahan tersendiri.

Ruben Onsu tidak menyembunyikan alasannya mengapa ia selalu merindukan Makkah, tempat di mana Ka’bah berdiri megah sebagai pusat ibadah umat Islam, meskipun telah beberapa kali berkunjung. Baginya, ada daya tarik spiritual yang tak tertandingi di kota suci tersebut. Suasana kebersamaan jutaan umat Islam yang datang dari berbagai belahan dunia dengan satu tujuan, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT, meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan.

"Suasananya. Bayangkan jutaan kepala ada di sana dan tujuannya satu, yaitu kepada Allah. Makanya kalau disuruh pilih antara Makkah dan Madinah, saya lebih senang tinggal di Makkah," ungkap Ruben, menjelaskan preferensinya. Atmosfer spiritual yang intens, di mana setiap individu larut dalam zikir dan doa, menciptakan energi positif yang memancar dan menenangkan jiwa. Ini menjadi magnet kuat yang terus menariknya kembali untuk merasakan kedamaian hakiki.

Salah satu aspek yang paling menyentuh hati Ruben selama berada di Tanah Suci adalah terwujudnya kesetaraan di hadapan Allah SWT. Fenomena ini paling terasa ketika seluruh jemaah, tanpa terkecuali, mengenakan kain ihram berwarna putih. Dalam balutan busana sederhana itu, segala perbedaan status sosial, jabatan, kekayaan, maupun latar belakang seolah sirna, menyisakan manusia-manusia yang sama di hadapan Sang Pencipta, dengan niat tulus beribadah.

"Kalau di sana semuanya sama, nggak ada perbedaan. Semua memakai ihram. Nggak melihat siapa yang kaya atau punya jabatan. Semuanya rata, sama di mata Allah. Itu yang membuat saya senang, karena tidak ada kasta-kasta di sana," pungkas Ruben. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga tentang kerendahan hati dan esensi kehidupan yang sesungguhnya, jauh dari hiruk pikuk duniawi dan strata sosial yang seringkali membedakan manusia. Kesadaran akan kesetaraan ini semakin memperkuat ikatan spiritualnya dengan Tanah Suci.

Menutup perbincangan, Ruben Onsu berharap agar perjalanan umrahnya yang keempat kali ini dapat membawa dampak positif dan keberkahan bagi kehidupannya di masa depan. Ia ingin membawa pulang tidak hanya pahala dan ketenangan batin, tetapi juga cerita-cerita baik yang inspiratif. Kenangan indah dan pelajaran spiritual yang didapatkannya diharapkan bisa ia bagikan kepada keluarga, kerabat, serta para penggemarnya sebagai motivasi dan pencerahan, menunjukkan sisi lain dari kehidupannya yang penuh makna.

"Ya mudah-mudahan banyak kenangan lagi di umrah yang keempat ini untuk menjadi cerita yang baik gitu," tutup Ruben Onsu dengan nada penuh harap. Perjalanan spiritual ini menjadi pengingat akan pentingnya introspeksi, penyerahan diri, dan doa dalam menghadapi setiap episode kehidupan, sekaligus menegaskan ikatan mendalamnya dengan nilai-nilai agama dan keluarga yang senantiasa menjadi pijakan dalam setiap langkahnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All