Utang nasional Amerika Serikat mengalami lonjakan signifikan selama masa kepemimpinan Donald Trump, berujung pada beban utang yang kini mencapai sekitar Rp2 miliar atau USD 133.000 per warga negara. Angka ini mencerminkan peningkatan drastis yang terjadi dalam kurun waktu empat tahun terakhir masa jabatan Trump.
Menurut data terbaru yang dirilis oleh Congressional Budget Office (CBO) dan dianalisis oleh Peter G. Peterson Foundation, total utang federal AS telah melampaui angka USD 27 triliun. Peningkatan ini bukan hanya sekadar nominal, tetapi juga berimplikasi pada rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang kini mencapai lebih dari 100% PDB.
Faktor utama yang mendorong lonjakan utang ini adalah kombinasi pemotongan pajak besar-besaran yang disahkan pada tahun 2017, serta peningkatan belanja pemerintah, terutama untuk pertahanan dan dalam penanganan pandemi COVID-19 melalui berbagai paket stimulus ekonomi. “Pemotongan pajak tahun 2017 menambah USD 1,9 triliun ke utang nasional selama satu dekade,” ungkap analis dari Peter G. Peterson Foundation, merujuk pada dampak kebijakan tersebut.
Lebih lanjut, respons terhadap krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi COVID-19 juga menelan biaya yang sangat besar. Paket stimulus yang disahkan oleh Kongres, seperti CARES Act, telah menambah triliunan dolar ke defisit anggaran. “Stimulus fiskal yang disahkan untuk menanggapi pandemi COVID-19 akan menambah USD 2,4 triliun lagi ke utang nasional selama satu dekade,” tambah mereka.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ekonom mengenai keberlanjutan fiskal jangka panjang Amerika Serikat. Beban utang yang terus menumpuk dapat berpotensi membatasi ruang gerak pemerintah di masa depan untuk berinvestasi dalam program-program penting, serta meningkatkan biaya pembayaran bunga utang yang pada gilirannya akan semakin membebani anggaran negara.
Meskipun angka spesifik mengenai total utang per warga negara dapat bervariasi tergantung pada metode perhitungan dan jumlah penduduk yang digunakan, perkiraan USD 133.000 per orang memberikan gambaran yang jelas mengenai skala tantangan fiskal yang dihadapi oleh AS. Angka ini menjadi pengingat akan konsekuensi dari kebijakan fiskal yang diambil selama periode kepemimpinan sebelumnya.
