Friday, 11 September 2026
BREAKING
BERITA

Pendidikan sebagai Ancaman Internal Israel: Laporan Mendalam

Oleh Emanuel September 11, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Tel Aviv, Israel – Perubahan ekonomi dan demografi yang pesat tengah mengancam fondasi Israel dari dalam. Sebuah analisis mendalam mengungkap bahwa pendidikan, yang seharusnya menjadi alat kemajuan, justru berpotensi menjadi senjata penghancur bagi negara tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya keretakan internal yang semakin menganga, terlepas dari tantangan eksternal yang dihadapi Israel.

Menurut laporan yang dirilis oleh Center for Strategic and Policy Studies (CSPS), kesenjangan pendidikan antara kelompok Yahudi ultra-Ortodoks dan masyarakat umum Israel semakin melebar. Kelompok Yahudi ultra-Ortodoks, yang dikenal dengan penekanan kuat pada studi agama, secara signifikan tertinggal dalam penguasaan mata pelajaran inti seperti matematika, sains, dan bahasa Inggris. Kesenjangan ini bukan hanya masalah akademis, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang luas bagi masa depan Israel.

Laporan tersebut menyoroti bahwa sebagian besar dari 1,3 juta anak-anak Yahudi ultra-Ortodoks tidak menerima pendidikan sekuler yang memadai. Kurikulum mereka didominasi oleh studi Taurat, dengan sedikit atau tanpa penekanan pada keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja modern. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana generasi muda dari komunitas ini kesulitan untuk berintegrasi ke dalam angkatan kerja arus utama, yang pada gilirannya memperburuk kondisi ekonomi mereka dan masyarakat secara keseluruhan.

Dr. Yoni Mishal, seorang peneliti di CSPS, menyatakan keprihatinannya. “Kami melihat bahwa pada tahun 2022, hanya 10 persen siswa dari sekolah-sekolah ultra-Ortodoks yang mengambil ujian matriculation dalam mata pelajaran sains, dibandingkan dengan lebih dari 50 persen di sekolah-sekolah umum. Angka-angka ini sangat mengkhawatirkan,” ujarnya. Mishal menambahkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, Israel akan menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil yang signifikan di masa depan, terutama di sektor teknologi dan sains yang menjadi tulang punggung ekonominya.

Lebih lanjut, laporan CSPS juga mengidentifikasi bahwa tingkat kemiskinan di kalangan Yahudi ultra-Ortodoks jauh lebih tinggi dibandingkan dengan populasi Yahudi lainnya. Pada tahun 2021, tingkat kemiskinan di kalangan mereka mencapai 40 persen, hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional. Keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kemiskinan ini.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan model pendidikan yang diterapkan di komunitas Yahudi ultra-Ortodoks dan dampaknya terhadap kohesi sosial serta kemajuan ekonomi Israel. Jika tidak ada intervensi yang signifikan, kesenjangan pendidikan ini berpotensi memperdalam perpecahan internal dan menciptakan beban ekonomi yang semakin berat bagi negara. Laporan CSPS menekankan perlunya reformasi mendesak dalam sistem pendidikan untuk memastikan bahwa semua warga negara Israel memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil dan berkontribusi pada masa depan bangsa.

Bagikan: Facebook X WhatsApp