Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, mengakui bahwa penutupan bandara sempat menjadi tantangan signifikan dalam perjalanan atlet menuju Asian Games 2026. Meskipun demikian, Oktohari menekankan bahwa seluruh pihak yang terlibat berhasil mengatasi hambatan tersebut.
Menurut Oktohari, kendala logistik yang timbul akibat penutupan bandara memang memberikan kerumitan tersendiri. Namun, semangat kolaborasi dan kesigapan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam menemukan solusi.
“Kita punya tantangan, tapi kita bisa melewati itu,” ujar Oktohari dalam sebuah kesempatan. Ia menambahkan bahwa proses adaptasi dan pencarian alternatif menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan tim, terutama dalam memastikan kelancaran mobilitas atlet.
Oktohari tidak merinci secara spesifik bandara mana yang mengalami penutupan atau durasi penutupan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi NOC Indonesia dalam merencanakan strategi keberangkatan atlet di masa mendatang. Koordinasi yang lebih matang dengan otoritas penerbangan dan pihak terkait lainnya akan menjadi prioritas.
Asian Games 2026 dijadwalkan akan diselenggarakan di Nagoya, Jepang. Perhelatan olahraga akbar ini menuntut persiapan matang dari berbagai aspek, termasuk kesiapan atlet yang tidak hanya dari segi fisik dan mental, tetapi juga dari segi logistik perjalanan.
NOC Indonesia terus berupaya memastikan bahwa para atlet mendapatkan dukungan terbaik agar dapat fokus pada persiapan dan meraih prestasi maksimal di ajang internasional. Pengalaman menghadapi kendala bandara ini diharapkan dapat memperkuat sistem manajemen perjalanan tim nasional di masa depan, meminimalkan risiko hambatan serupa terulang kembali.
