Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, terpaksa ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan menyusul dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu vulkanik yang cukup signifikan mengancam keselamatan penerbangan, memaksa otoritas bandara mengambil keputusan tegas untuk menghentikan operasional demi keamanan.
Keputusan penutupan ini berdampak langsung pada ribuan penumpang dan ratusan jadwal penerbangan yang seharusnya beroperasi pada hari ini, Senin (24/12/2018). Pihak Angkasa Pura II selaku pengelola bandara terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk BMKG dan PVMBG.
General Manager PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta, M. Suriawan, dalam keterangannya menyatakan bahwa penutupan operasional bandara bersifat situasional. “Kami akan terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik. Keputusan pembukaan kembali bandara akan sangat bergantung pada kondisi dan laporan terkini mengenai keamanan penerbangan,” ujar Suriawan. Ia menambahkan bahwa potensi perpanjangan penutupan masih terbuka lebar apabila kondisi sebaran abu vulkanik tidak kunjung membaik.
Dampak erupsi Anak Krakatau ini tidak hanya dirasakan di Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah bandara lain di sekitar wilayah terdampak juga mengalami penutupan serupa. Hal ini menunjukkan skala luas dari gangguan yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik tersebut. Ribuan penumpang yang telah merencanakan perjalanan mereka harus menunda keberangkatan, menimbulkan kekecewaan dan kerugian finansial.
Pihak maskapai penerbangan telah berupaya memberikan informasi kepada penumpang mengenai penundaan dan opsi yang tersedia, seperti penjadwalan ulang tiket atau pengembalian dana. Namun, ketidakpastian kapan bandara akan kembali beroperasi membuat penanganan situasi ini menjadi kompleks. Pengelola bandara dan maskapai terus berupaya memberikan pelayanan terbaik di tengah situasi darurat ini.
